GEOGRAFI NEWS

GEOGRAFI NEWS : Geografi memiliki cabang ilmu, antara lain; geografi sosial, geografi ekonomi, geografi budaya, geografi politik, geografi fisik, geografi regional dan geografi teknik. GEOGRAFI NEWS : Pengertian geografi dalam arti sempit adalah ilmu tentang bumi GEOGRAFI NEWS : Geografi dalam arti luas adalah ilmu yang mempelajari tentang perbedaan dan persamaan fenomena geosfer dari sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan. GEOGRAFI NEWS : Geografi memiliki 3 pendekatan, yaitu ; 1. pendekatan ekologi atau lingkungan, 2. pendekatan regional complex atau kewilayahan, 3. pendekatan spatial atau keruangan. GEOGRAFI NEWS : Geografi menerapkan 4 prinsip dasar, yaitu; 1. prinsip distribusi, 2. prinsip interelasi, 3. prinsip diskripsi dan 4. prinsip korologi. GEOGRAFI NEWS : geografi mengkaji 2 jenis objek, antara lain ; 1. objek material, 2. objek formal. GEOGRAFI NEWS : konsep geograf ; konsep jarak, konsep letak, konsep interaksi, konsep pola, konsep aglomerasi, konsep keterjangkauan, konsep defferensiasi area, konsep topografi. GEOGRAFI NEWS : TEMPO.CO, TOKYO—Pemerintah Jepang berjanji akan turun tangan mengatasi krisis di reaktor nuklir Daiichi, Fukushima, Senin 2 September 2013. Perdana Menteri Shinzo GEOGRAFI NEWS : Damaskus - Badan urusan pengungsi PBB (UNHCR)memperkirakan sebanyak 7 juta warga Suriah kehilangsn tempat tinggal sejak konflik berkecamuk Maret 2011 GEOGRAFI NEWS : Menurut Reuters, mengutip para ahli AS itu, asteroid ”2003 QQ47” akan dipantau secara cermat selama dua bulan mendatang. Tanggal potensial ia bakal menerjang Bumi, adalah 21 Maret 2014. Tetapi, para pakar astronomi AS-Inggris tersebut mengatakan risiko bertabrakan dapat dikurangi, bergantung pada data lebih lanjut yang sedang mereka kumpulkan. Andaikata menabrak Bumi, hantaman asteroid itu akan sama dahsyatnya dengan ledakan 20 juta bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, kata seorang jubir Near Earth Object Information Centre (NEOIC), kepada radio BBC.

GEO Kls XII

Geografi/totok endrawan


P E T A.

A. Pengertian Peta :
Peta adalah suatu gambaran atau representasi unsur-unsur kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi atau benda angkasa digambar pada bidang datar.
Gambar 1.1 : Peta Indonesia (buatan siswa kls XII.IS.2 SMA Islam Sultan Agung 2 Kalinyamatan, Jepara)
                                                                        

B. Macam-macam Peta

Macam-macam peta dapat ditinjau dari jenis, skala, isi, tujuannya.
1.      Ditinjau dari jenisnya
Ditinjau dari jenisnya, peta dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta garis/grafis. Peta foto ialah peta yang dihasilkan dari mozak foto udara atau ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda. Peta garis ialah peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan.

2.      Ditinjau dari skalanya
Berdasarkan skalanya, peta dapat diklasifikaskan menjadi lima, yaitu :
a.            Peta kadaster, berskala 1:100 s/d 1:5.000. peta-peta tanah dan peta dalam sertifikat tanah.
b.           Peta skala besar, berskala 1:5.000. s/d 1: 250.000.
c.            Peta skala sedang, 1: 250.000 s/d 1:500.000. .
d.           Peta skala kecil, berskala 1: 500.000 s/d 1 : 1.000.000.
e.            Peta skala geografis/ kecil dari 1: 1.000.000, benua, atau dunia.

3. Ditinjau dari informasinya
a.    Peta Umum/Peta Ikhtisar. = Peta umum adalah peta yang menggambarkan segala sesuatu yang ada dalam suatu daerah.
b.    Peta Khusus/ Peta Tematik =. menggambarkan penampakan-penampakan tertentu dipermukaan bumi saja.

C. Unsur-unsur / komponen Kelengkapan Peta

Bagian-bagian pokok peta antara lain sebagai berikut.
1. Judul Peta.
2. Garis Astronomis.
3. Inset.
4. Garis Tepi Peta.
5. Skala Peta
6. Sumber Peta
7. Tahun Pembuatan.
8. Mata Angin.
9. Simbol Peta :
a. Simbol Titik
Terdiri atas simbol geometrik, simbol piktorial, dan simbol huruf/angka.
1) simbol geometrik adalah simbol yang menggunakan gambar – gambar geometrik (segitiga, lingkaran, persegi) simbol ini kurang ada kemiripan dengan obyek di lapangan.
2) Simbol piktorial / gambar adalah simbol yang menggunakan gambar sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan (Kapal terbang = bandara, jangkar = pelabuhan laut).
3) Simbol huruf / angka adalah simbol yang menggunakan huruf atau angka.  
b. Simbol garis.
Simbol ini terutama digunakan untuk mewakili obyek yang memanjang (rel kereta api, garis kontur, batas administrasi).
c. Simbol wilayah / luasan
Digunakan untuk menunjukkan luas (panjang / lebar). (persawahan)
d. Simbol warna. 
Digunakan untuk menunjukkan wilayah tetapi berupa warna-warna tertentu.
10. Warna Peta
Warna dalam peta mencirikan keadaan objek tertentu, misalnya : warna biru untuk lautan/perairan, hijau untuk dataran rendah, kuning untuk dataran tinggi, coklat untuk pegunugan/gunung yang tinggi, merah untuk bentang hasil budi daya manusia, dan putih untuk puncak pengunungan salju. Dalam penggunaan warna ada kalanya menggunakan warna gradual, artinya warnanya sama tetapi tua mudanya berbeda. Contoh : laut memakai warna biru. Semakin dalam lautnya maka warnanya semakin tua.
11. Legenda
Legenda adalah keterangan dari symbol-simbol peta yang digunakan agar lebih mudah dipahami pembaca. Pada umumnya, legenda terletak di sisi kiri atau kanan bagian bawah suatu peta dan sebaiknya didalam garis tepi peta. Penempatan legenda ini murni didasarkan pada pendekatan kreativitas dan nilai keindahan seni kartografinya.
12. Lettering
Lettering adalah semua tulisan dan angka-angka yang tertera dalam suatu peta. Lettering juga berfungsi untuk mempertegas arti dar symbol-simbol yang ada. Lettering ini jangan terlalu banyak dan biasanya ditulis dengan huruf cetak kecil yang representative terhadap besarnya peta.
13. Jenis huruf Lettering
Pada dasarnya, setiap penamaan symbol atau kenampakan alam selalu digunakan huruf-huruf standar.
  1. Judul peta ditulis dengan huruf cetak besar yang tegak. Tinggi huruf disesuaikan dengan besar peta.
  2. Kenampakan di air misalnya sungai, laut, danau, rawa menggunakan huruf bersirip dan miring, besar kecilnya berdasarkan strategisnya.
  3. Tulisan sungai ditulis memanjang sesuai dengan arah sungai. Untuk penulisan dapat diletakkan di bagian atas atau bawah sungai dengan jenis miring/italic.
  4. Legenda ditulis dengan huruf cetak kecil dan diatur supaya baik untuk dilihat.
  5. Kota-kota besar ditulis dengan huruf tegak dan cetak, lebih kecil dari judul peta. Untuk kota-kota kecil hurufnya juga harus lebih kecil lagi.

D. Skala Peta

            Skala peta adalah angka yang menunjukan perbandingan jarak di peta (gambar) dengan jarak yang sebenarnya di permukaan bumi. Misalnya, dalam peta tercantum skala 1:7.000.000 berarti tiap-tiap jarak 1 cm di peta, sama dengan jarak 7.000.000 cm di lapangan. Pada setiap peta harus dicantumkan skalanya agar setiap orang dapat mengetahui pengecilannya sampai berapa kali.
  1. Dalam kartografi (ilmu yang mempelajari tentang perpetaan) skala dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berkut :
a. Skala pecahan (numeric scale), yaitu skala yang menunjukkan perbandingan antara jarak di peta dan jarak yang sebenarnya di lapangan, yang dinyatakan dengan angka pecahan.
Contoh : Penulisan 1:100.000 untuk perbandingan 1 satuan di peta mewakili 100.000 satuan pada keadaan sebenarnya. Contoh Negara yang menggunakan system ini adalah Indonesia.
b. Skala Inci (verbal scale), yaitu skala yang menunjukkan jarak inci di peta sesuai dengan sejumlah mil di lapangan.
Contoh : 1 inci = 4 mil. Artinya 1 inci dalam peta = 4 mil dilapangan. Contoh Negara yang menggunakan system ini adalah Amerika.
c. Skala grafik (graphic scale), yaitu skala yang ditunjukan dengan garis lurus, yang dibagi-bagi dalam bagian yang sama. Setiap bagian menunjukkan acuan panjang yang sama pula.
     Contoh :
                              1 cm = 1,8 km
                              5 cm = 9 km

  2. Cara menentukan skala
Bagamana kalau dalam sebuah peta tidak ada skalanya? Peta tersebut dapat ditentukan dengan berbagai cara, misalnya sebagi berikut.
a. Membandingkannya titik-titik di peta dengan titik-titik di lapangan.
Contoh : jarak A-B di peta = 10 cm, lalu jarak A-B di lapangan diukur, ternyata jaraknya 10 kilometer. Jadi, skala10 cm : 1.000.000 cm atau   1 : 100.000

b. Membandingkannya dengan peta lain atau potret udara yang sudah ada skalanya untuk kenampakan yang sama.
Misalnya : jarak A-B = 10 cm, tetapi skalanya tidak ada. Lalu, kita bandingkan dengan jarak A-B pada peta lain berskala 1: 50.000. ternyata jarak A-B = 20 cm.
      10 x X = 20 x 50.000
      10 x X = 1.000.000
              X =
Jadi, skala peta adalah 1 : 100.000

c. Memperhitungkan selisih derajat lintang atau bujur.
Kita telah mengetahui bahwa 10 = 111 km
Hal ini berarti 600 = 111 km
A  
B  
Misalkan jarak A-B pada peta = 10 cm, maka jarak sebenarnya adalah 400 22’ - 400 20’. Padahal 10 = 60’ = 111 km2’ = 2/60 x 111 km = 3,7 km, berarti 10 cm di peta sama dengan 370.000 cm di lapangan sehingga skalanya 1 : 370.000/10 = 1 : 37.000.

E. Proyeksi Peta

Bentuk permukaan bumi yang seperti permukaan bola jika digambarkan pada kertas/ bidang datar pasti akan mengalami kesalahan-kesalahan. Untuk menghindari atau memperkecil kesalahan, maka dipilihlah cara penggambaran dengan proyeksi. Yang disebut proyeksi peta adalah cara pemindahan lintang/bujur pada lengkungan permukaan bumi ke bidang datar.  Agar peta dapat berfungsi dengan baik, tiga persyaratan pokok berikut harus dipenuhi dalam memilih jenis proyeksi :
a.    Conform     : berarti berbentuk bidang daerah, pulau, benua yang digambar
                          pada peta harus sesuai dengan bentuk aslinya di alam.
b.    Equivalent   : Berarti daerah-daerah atau bidang-bidang yang digambarkan
                          harus sama luas dengan apa yang terdapat di lapangan.
c.    Ekuidistant  : berarti jarak-jarak yang digambarkan peta tepat perbandingannya
                          dengan keadaan jarak-jarak sesungguhnya.
            Berdasarkan proyeksinya, peta digolongkan atas 4 golongan, yaitu proyeksi zenithal (azimuthal), proyeksi silinder (cylindris), proyeksi kerucut (conic), dan proyeksi unik (unique).
a.    Proyeksi zenithal adalah bidang proyeksi berupa bidang datar yang menyingung bola pada kutub, ekuator atau di sembarang tempat yang terletak antara ekuator dan kutub. Proyeksi ini paling baik untuk menggambarkan daerah disekitar ekuator.
b.    Proyeksi silinder adalah semua pararel merupakan garis horizontal dan semua meridian berupa garis lurus vertical. Proyeksi ini paling tepat menggambarkan daerah ekuator sebab kearah kutub terjadi pemanjangan garis (pemekaran)
Keuntungan proyeksi silinder : yaitu tempat-tempat yang pararelnya sama terletak pada satu garis lurus.
Pararel dan meridian sering dapat di hapuskan dan hanya diberi angka pada bagian tepi bingkai gambar hasil proyeksi.
c.      Proyeksi kerucut diperoleh dengan memproyeksikan globe pada kerucut yang menyinggung atau memotong globe kemudian dibuka, sehingga bentangannya ditentukan oleh sudut puncaknya. Proyeksi ini paling tepat untuk menggambarkan daerah-daerah di lintang 450.
d.      Proyeksi unik adalah suatu cara memproyeksikan bumi yang lengkung menuju bidang datar dari hasil pengembangan para ahli.
Beberapa contoh proyeksi Unik adalah
a.      Proyeksi homolografik Mollweide. Dikembangkan oleh Karl.B. Mollweide pada tahun 1805.
b.      Proyeksi Homolosin Goode.
Dikembangkan oleh Dr. Paul Goode pada tahun 1923.
c.        Proyeksi Eckart IV.
Dikembangkan oleh Prof. Max Eckart.







proyeksi

















PERINDUSTRIAN

A. Penggolongan industri
1. menurut bahan bakunya
a. ekstraktif                 : bahan baku diambil langsung dari alam
b. non ekstraktif          : bahan baku diambil dari industri lain
c. fasilitatif                  : bergerak di bidang jasa.

2. menurut jumlah tenaga kerja
a. Rumah tangga         : 1-4 orang
b. kecil                         : 5-19 orang
c. menengah                : 20-99 orang
d. besar                        : > 100 orang

 3. menurut produksi yang dihasilkan
a. indutri primer : Bahan baku tanpa pengolahanlebih lanjut / rumit (anyaman bambu)
b. indutri sekunder : bahan baku mengalami pengolahan lebih lanju / rumit.
c. industri tersier : bergerak di bidang jasa

4. menurut bahan mentah ;
a. indutri pertanian
b. industri non pertanian

5. menurut lokasi usahanya, berorientasi pada :
a. pasar
b. tenaga kerja
c. bahan baku
d. energi
e. transportasi

6. menurut tahapan proses produksinya :
a. industri hulu : mengolah bahan mentah menjadi setengah jadi.       
b. industri hilir : mengolah bahan setengah jadi menjadi barang jadi

7. menurut produksi yang dihasilkan :
a. industri berat : industri yang mnengahsilkan alat / mesin produksi bagi industri lain.
b. industri ringan : industri yang menghasilkan barang konsumsi.

8. menurut sumber modal ;
a. penanaman modal dalam negeri (PMDN)
b. penanaman modal asing (PMA)
c. patungan (joint venture)

9. menurut yang mengusahakan (subyek pengelola):
a. industri rakyat
b. industri negara (BUMN)

10. menurut bahan dasar industri
a. industri campuran : bahan dasar lebih dari satu jenis.
b. industri trafic : bahan mentah impor.
c. industri konveksi : pakaian jadi.
d. industri perakitan.

11. Industri menurut Deperindag
a. kimia dasar                          : kertas, pupuk, semen, ban
b. mesin dan logam dasar        : besi baja, alat kominikasi, mesin tekstil
c. aneka industri                      : makanan minuman, pakaian jadi
d. kecil                                    : minyak goreng, roti, pengawetan daging


B. Lokasi industri
Ada dua faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi industri :
1. faktor pokok : bahan mentah / baku, modal, transportasi, tenaga kerja, sumber energi, pemasaran
2. faktor tambahan : uu, iklim, pajak, persediuaan air

C. Teori lokasi industri
1. teori tempat yang sentral (central place theory) oleh WALTER CHRISTALLER (1933).
a. tempat sentral yang berhierarki 3 (K=3) : kasus pasar optimal
b. tempat sentral yang berhierarki 4 (K=4) : kasus lalu lintas yang optimum
c. tempat sentral yang berhierarki 7 (K=7) : situasi administrasi yang optimum.

2. teori ongkos transportasi oleh ALFRED WEBER
tiga faktor adalah titik material, titik konsumsi dan titik tenaga kerja

3. teori lokasi industri optimal
teori ini berdasarkan pada permintaan sehingga diasumsikan lokasi optimal dari suatu industri diusahakan menguasai wilayah pemasaran yang luas.

D. Aglomerasi industri
Aglomerasi industri adalah pemusatan berbagai macam in dustri dalam suatu wilayah agar dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada berbagai industri di suatu wilayah. Aglomerasi industri terbentuk karena danya :
1. hubungan produksi (barang bergerak dari suatu perusahaan ke perusahaan lain)
2. hubungan pelayanan (perusahaan saling membutuhkan pelayanan perusahaan lain)
3. hubungan pemasaran (melibatkan bagian yang terpisah-pisah sampai ke konsumen)





PENGINDERAAN JAUH

A. Pengindraan Jauh (Indraja)
Pengindraan jauh sering disingkat indraja. Menurut Lillesand dan Keifer, indraja adalah ilmu atau teknik dan seni untuk mendapatkan informasi tentang objek, wilayah, atau gejala dengan cara menganalisis data-data yang diperoleh dari suatu alat tanpa berhubungan langsung dengan objek, wilayah, atau gejala yang sedang dikaji.

B. Komponen Indraja

Komponen-komponen dalam indraja merupakan serangkaina objek yang saling berkaitan dan bekerja sama secara terkoordinasi untuk melakukan pengindraan.
Rangkaian dalam komponen indraja meliputi sumber tenaga, atmosfer, objek, sensor, wahana, perolehan data, dan pengguna data.

  1. Sumber Tenaga
Sumber tenaga dalam proses indraja terdiri atas tenaga alamiah (matahari) dan tenaga buatan.

  1. Atmosfer
Molekul-molekul gas yang terdapat di dalam atmosfer tersebut dapat menyerap, memantulkan, dan melewatkan radiasi elektromagnetik. Oleh karena itu, di dalam indraja terdapat istilah jendela atmosfer, yaitu bagian spectrum gelombang elektromagnetik yang dapat mencapai bumi. i antara tenaga dan objek.

  1. Interaksi Antara Tenaga dan Objek
Interaksi antara tenaga dan objek dapat terlihat pada rona yang dihasilkan. Tiap-tiap objek memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor. Objek yang mempunyai daya pantul tinggi akan terlihat cerah pada citra, sedangkan objek yang daya pantulnya rendah akan terlihat gelap pada citra.

  1. Sensor
a.       Sensor
Sensor merupakan alat pemantau yang dipasang pada wahana, baik pesawat maupun satelit. Berdasarkan proses perekamannya, sensor dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sensor fotografik dan sensor elektronik.
1)      Sensor fotografik merekam objek melalui proses kimiawi yang dapat dipasang pada pesawat udara maupun satelit. Sensor fotografik itu menghasilkan foto. Sensor fotografik yang dipasang pada pesawat udara menghasilkan citra foto (foto udara), sedangkan jika dipasang pada satelit menghasilkan citra satelit (foto satelit).
2)      Sensor elektronik merupakan sensor yang bekerja secara elektrik dalam bentuk sinyal. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetic selanjutnya dapat diproses menjadi data visual atau digital dengan menggunakan computer. Sensor elektronik itu menghasilkan citra indraja (lebih dikenal dengan sebutan citra).

  1. Wahana
Wahana adalah kendaraan yang digunakan untuk membawa sensor guna mendapatkan data indraja. Berdasarkan ketinggian peredaran dan tempat pemantulannya di angkasa, wahana dapat di bedakan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.
1)      Pesawat terbang rendah sampai menengah, yaitu pesawat yang ketinggian pendaratannya antara 1.000 m dan 9.000 m di atas permukaan bumi.
2)      Pesawat terbang tinggi, yaitu pesawat yang ketinggian peredarannya lebih dari 18.000 m di atas permukaan bumi.
3)      Satelit, saitu wahana dengan 900 km di atas permukaan bumi.

  1. Perolehan Data
Data indraja diperoleh dengan cara manual atau dengan cara numeric (digital). Secara manual dan diperoleh melalui interpretasi citra.

  1. Pengguna Data
Pengguna data merupakan komponen yang penting dalam sistim indraja, yaitu orang atau lembaga yang memanfaatkan informasi hasil indraja.

C. Citra

Citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor. Data indraja juga berupa data visual yang pada umumnya dianalisis secara manual.
Data visual dibedakan menjadi dua, yaitu data citra dan data noncitra. Data citra dalah berupa gambaran yang mirip dengan wujud aslinya atau minimal berupa gambaran planimetri. Data noncitra pada umumnya berupa garis atau grafik.
Citra indraja adalah gambaran suatu gejala atau objek sebagai hasil rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optic, elektrooptik, maupun elektronik. Citra dibedakan menjadi dua, yaitu citra foto (photographic image)/ foto udara dan citra nonfoto (nonphotographic image)

1.      Citra Foto
Citra foto adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan dengan menggunakan kamera. Guna melakukan pemeotretan, kamera tersebut dipasang pada wahana tertentu, contohnya laying-layang, balon udara, atau pesawat terbang. Hasil pemotreran yang menggunakan wahana-wahana itu di sebut foto udara, sedangkan apabila wahana yang digunakan adalah satelit hasilnya disebut foto satelit.
Citra foto dibedakan atas dasar spectrum elektromagnetik yang digunakan, posisi sumbu kamera, sudut liputan kamera, jenis kamera, wahana yang digunakan, dan system wahananya.
a.      Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan
Berdasarkan spectrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu sebagai berikut.
1)      Citra foto ultraviolet, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultraviolet.
2)      Citra foto ortokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau.
3)      Citra foto pankromatik, yaitu citra foto yang dibuat demgan menggunakan seluruh spektrum tampak.
4)      Citra inframerah asli, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektruminframerah.
5)      Citra foto inframerah modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari warna merah dan sebagian warna hijau.
Dari kelima jenis citra foto tersebut yang paling banyak penggunaannya dalam indraja sistim fotografi adalah citra foto pankromatik.

b.      Posisi Sumbu Kamera
Berdasarkan posisi sumbu kamera terhadap permukaan bumi citra foto dibedakan menjadi dua jenis, yaitu citra foto vertical dan citra foto condong.
1)      Citra foto vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi. kemiringan sumbu kamera sebesar 10 - 40, citra foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai citra vertikal.
2)       Citra foto condong, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera miring, umumnya membentuk sudut sebesar 100 atau lebih. Citra foto condong dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut.
a)      Citra foto agak condong, yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada citra foto
b)      Citra foto sangat condong, yaitu apabila cakrawala tergambar tergambar pada citra foto.

c.       Sudut Liputan Kamera
Berdasarkan sudut liputan kamera, citra foto dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu sudut kecil, sudut normal, sudut lebar, dan sudut sangat lebar.
Table, Jenis Citra Foto Berdasarkan Sudut Liputan
Jenis Kamera
Sudut Liputan
Jenis Foto
Sudut kecil
(narrow angel)
< 600
Sudut kecil
Sudut normal
(normal angel)
600 – 750
Sudut normal/ sudut standar
Sudut lebar
(wide angel)
750 – 1000
Sudut lebar
Sudut sangat lebar
(super-wide angel)
> 1000
Sudut sangat lebar

d.      Jenis Kamera
Berdasarkan kamera yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi dua jenis, yaitu citra foto tunggal dan citra foto jamak.
1)      Citra foto tunggal, yaitu citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Oleh karena itu, setiap objek hanya tergambar dalam satu lembar foto.
2)      Citra foto jamak, yaitu citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan objek liputan yang sama. Foto jamak dibuat dengan 3 cara, yaitu sebagai berikut.
a)      Multikamera, yaitu menggunakan beberapa kamera yang masing-masing diarahkan ke satu objek.
b)       Kamera multilensa, yaitu satu kamera dengan beberapa lensa.
c)      Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna.

e.       Warna yang Digunakan
Berdasarkan warna yang digunakan, citra foto berwarna dibedakan menjadi 2, yaitu citra foto warna asli (true color) dan citra foto warna semu (false color).

f.       Sistem Wahana
Berdasarkan wahana yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu citra foto udara dan citra foto satelit.
1)      Citra foto udara, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana yang bergerak di udara, contohnya laying-layang, balon udara, dan pesawat terbang.
2)      Citra foto satelit, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana yang bergerak di ruang angkasa, umumnya satelit.

2.      Citra Nonfoto
Citra nonfoto adalah gambar atau citra tentang suatu objek yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara memindai (scanning). Citra nonfoto dibedakan atas dasar spectrum elektromagnetik yang digunakan, sensor yang digunakan, dan wahana yang digunakan.
a.       Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan
Berdasarkan spectrum elektromagnetik yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu citra inframerahtermal, citra radar, dan citra gelombang mikro.
1)      Citra inframerah termal, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum inframerah termal.
2)      Citra radar, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro dan sumber tenaga buatan.
3)      Citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro.

b.      Sensor yang Digunakan
Berdasarkan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi 2, yaitu citra tunggal dan citra multispektral.
1)      Citra tungal, yaitu citra yang dibuat dengan dengan menggunakan sensor tunggal.
2)      Citra multipektral, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan sensor saluran jamak.

c.       Wahana yang Digunakan
Berdasarkan wahana yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi 2, yaitu citra dirgantara dan citra satelit.
1)      Citra dirgantara, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di udara atau dirgantara
2)      Citra satelit, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di antariksa.

Tabel. PERBEDAAN CITRA FOTO DENGAN CITRA NONFOTO
No
Variabel Pembeda
Jenis Citra
Citra Foto
Citra Nonfoto
1
Sensor
Kamera
Nomkamera, atas dasar pemindaian (scaning).
Kamera yang detektornya bukan film
2
Detektor
Film
Pita magnetic, termistor, foto konduktif, foto voltaic, dan sebagainya
3
Proses perekaman
Fotografi/kimiawi
Elektronik
4
Mekanisme Perekaman
Serentak
Parsial
5
Spektrum Elektromagnetik
Tampak dan Perluasannya
Tampak dan perluasannya, termal, serta gelombang mikro.


D. Interpretasi Citra

Interpretasi citra adalah kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali objek pada citra, selanjutnya menilai arti penting dari objek tersebut.

1. Ciri utama interpretasi :
a. ciri spektral
b. ciri spatial
c. ciri temporal

2. Unsur-unsur Interpretasi Citra
a.       Rona dan Warna
Rona adalah tingkat kecerahan atau kegelapan suatu objek yang terdapat pada citra.

b.      Bentuk
Bentuk mencerminkan konfigurasi atau kerangka objek, baik bentuk umum (shape) maupun bentuk rinci (form) untuk mempermudah pengenalan benda.

c.       Ukuran
Termasuk dalam unsur ukuran adalah jarak, luas, volume, ketinggian tempat, dan kemiringan.

d.      Tekstur
Tekstur adalah frekuensi perubahan atau pengulangan rona pada citra. (halus, sedang, dan kasar).

e.       Pola
Pola adalah kecenderungan bentuk suatu objek.

f.       Bayangan
Bayangan yang berbentuk pada suatu objek sangat dipengaruhi oleh arah datangnya sinar Matahari.

g.       Situs
Situs adalah tempat kedudukan suatu objek terhadap lingkungan sekitarnya. Contohnya, daerah persawahan terdapat di dataran rendah, sedangkan permukiman penduduk biasanya memanjang mengikuti jalan, sungai, atau pantai.

h.      Asosiasi
Asosiasi adalah hubungan antara suatu objek dan objek lain di sekitarnya.  Sekolah berasosiasi dengan lapangan.


E. Langkah-langkah untuk mendapatkan data indraja:
1. Deteksi
Mendeteksi objek yang terekam pada foto udara maupun foto satelit

2. Identifikasi
Mengidentifikasi objek berdasarkan :
a.           ciri spektral (ciri yang dihasilkan oleh interaksi antara tenaga elektromagnetik dengan benda).
b.          ciri spasial (ciri yang terkait dengan ruang misal bayangan, bentuk, asosiasi, pola, bentuk dan ukuran).
c.           ciri temporal (ciri yang terkait dengan umur obyek dan waktu saat perekaman)

3. Pengenalan
Pengenalan objek dilakukan untuk mengklasifikasikan objek yang tampak pada citra berdasarkan pengetahuan tertentu.

4. Analisis
Analisis bertujuan untuk mengelompokkan objek yang mempunyai cirri-ciri yang sama.

5. Deduksi
Deduksi merupakan pemrosesan citra berdasarkan objek yang terdapat pada citra kearah yang lebih khusus.

6. Klasifikasi
Klasifikasi meliputi deskripsi dan pembatasan (delineasi) dari objek yang terdapat pada citra.

7. Idealisasi
Idealisasi merupakan penyajian hasil interpretasi citra ke dalam bentuk peta yang siap pakai.

F. Manfaat Indraja
Tujuan utama indraja adalah merekam objek untuk mengumpulkan data sumber daya alam dan lingkungan. Hingga saat ini indraja semakin banyak dimanfaatkan, antara lain karena alasan - alasan berikut ini.
  1. Citra menggambarkan objek dipermukaan bumi dengan wujud dan letak objek mirip yang sebenarnya, gambar relatif lengkap, liputan daerah yang luas, dan sifat gambar yang permanent.
  2. citra tertentu dapat memberi gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga dimensi itu sangat menguntungkan, antara lain karena menyajikan model objek (medan) yang jelas, relative lebih jelas, memungkinkan pengukuran beda tinggi, memungkinkan pengukuran lereng, dan memungkinkan pengukuran volume.
  3. citra dapat menggambarkan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan objeknya. Sebagai contoh adalah terjadinya kebocoran pipa bawah tanah.
  4. citra dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit ditempuh melalui daratan, contohnya hutan, rawa, dan pegunungan.
  5. citra sebagai satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana.




SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)

A. Konsep Dasar sistem Informasi Geograf is (SIG)
Istilah Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan gabungan tiga unsur pokok, yaitu sistem, informasi, dan geografis. Dapat diketahui bahwa SIG merupakan suatu sistem yang menekankan pada unsur informasi geografis. Informasi geografis tersebut mengandung pengertian informasi tentang tempat tempat yang berada di permukaan bumi, pengetahuan tentang letak suatu objek di permukaan bumi, dan informasi tentang keterangan-keterangan (atribut) yang terdapat di permukaan bumi yang posisinya telah diketahui.   .

Dikembangkannya SIG menggunakan perangkat komputer mengakibatkan keterbatasan SIG manual dapat diatasi. Kemampuan SIG menggunakan perangkat komputer antara lain sebagai berikut.
1.  Penggabungan dua berkas data spasial atau lebih, baik daerah yang berbeda dengan atribut sama maupun daerah dan atribut yang sama sehingga dimungkinkan konversi proteksi, ukuran pixel, kode, dan simbol.
2.  Pencuplikan sebagian berkas data spasial, baik dengan cara dibatasi segi empat maupun menutup bagian yang tidak dikehendaki atau batas tak teratur.
3.  Mampu melakukan penyuntingan berkas data atribut antara lain meliputi berikut ini:
a.  Pengolahan berkas basis data
b.  Menayangkan informasi yang dihasilkan sesuai permintaan pengguna.
c.  Memungkinkan analisis statistik.      
d.  Memungkinkan penggunaan basis data SIG.
e.  Menyajikan hubungan antarbasis data.
4.  Tidak memerlukan banyak ruang untuk penyimpanan data dan pengambilan kembali data dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Ribuan peta topografi dapat disimpan secara digital pada satu komputer.
5.  Mampu mengolah sejumlah besar data secara cepat.

B.   Pengertian SIG (sistim informasi geografis)
SIG adalah suatu sistim yang memiliki fungsi pengumpulan, pengaturan, pengelolaan, penyimpanan, sampai penyajian segala jenis data (informasi) yang berkaitan dengan geografi.

Dibawah ini adalah pendapat para ahli :
a.  Sistem Informasi Geografis adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografi. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena karena lokasi geografi merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis. Oleh karena itu, SIG merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan dalam menangani data yang bereferensi geografi, yaitu masukan, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data), analisis dan manipulasi cara, serta keluaran (Aronaff, 1989).
b.  Sistem Informasi Geografis adalah suatu sistem perangkat yang dapat melakukan pengumpulan, penyimpanan, pengambilan kembali, pengubahan (transformasi), dan penayangan (visualisasi) dari data-data keruangan (spasial) untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu (Burrough, 1956).
c.  Sistem Informasi Geografis adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan, memanipulasi, dan menganalisis informasi geografi (Petrus Paryono).
d.  Sistem Informasi Geografis adalah sistem komputer yang digunakan untuk memanipulasi data geografi. Sistem ini diimplementasikan dengan perangkat keras dan perangkat lunak yang berfungsi untuk akuisisi (perolehan) dan verifikasi, kompilasi, penyimpanan, perubahan dan updating, manajemen dan pertukaran, manipulasi, pemanggilan dan presentasi, serta analisis (Bernhardsen, 1992).
e.  Sistem Informasi Geografi adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut. SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknolog yang diperlukan, yaitu data spasial, perarigkat keras, perangkat lunak, dan struktur organisasi (J. Raper, 1994).

C. Cara Kerja SIG
Karena merupakan suatu sistem, informasi geografis terdiri dari 4 subsistem pokok, yaitu subsistem masukan (data input), penyajian (data output, penyimpanan (data management), serta pengolahan dan pengkajian (data manipulation and analysis).

1)  Subsistem Masukan / input
Fungsi dari subsistim  ini adalah mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Selain itu, subsistem ini bertanggung jawab dalam melakukan konversi atau melakukan transformasi formal. Data-data asli ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.

2)  Subsistem Pengolahan dan Pengkajian
Fungsi dari subsistim ini adalah menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Selain itu, subsistem ini juga melakukan pengolahan dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

3) Subsistem Penyimpanan
Fungsi dari subsistim ini adalah mengorganisasikan data, baik data spasial maupun data atribut ke dalam basis data (bank data). Penyimpanan dengan cara demikian mempermudah dalam pemanggilan, pengeditan dan pembaharuan data)   

4. Subsistem Penyajian / keluaran / output
Fungsi dari subsistem ini adalah menampilkan data dan hasil dari pengolahannya, baik sebagian maupun seluruhnya. Data dan hasil pengolahannya tersebut ditampilkan antara lain dalam bentuk tabel, grafik, dan peta (khususnya para digital).

Secara garis besar terdiri dari subsistim masukan- sub sistim proses – subsistim keluaran 


Tahapan kerja dalam SIG.
Pembuatan dan analisis dengan tahapan
1. Tahapan persiapan (kajian kebutuhan, pembuatan konsep dan skema peta tematik, menyiapkan peta dasar, merancang siklus basis data, menentukan prosedur kerja)
2.      Tahapan digitasi
3.      Tahapan editing
4.      tahapan konversi : penyesuaian koordinat
5.      tahap anotasi (pemberian nama obyek, misal nama gunung, nama kota)
6.      tahap pemberian label (pemberian identitas suatu obyek sperti Laut dan Daratan)
7.      tahap analisis data (pengukuran sampai penggabungan beberapa peta).  
8.      tahap pelaporan




D. Komponen Utama  SIG
Subsistem dalam SIG saling berhubungan satu sama lain dan terintegrasi dengan sistem-sistem komputer. SIG terdiri atas 4 komponen pokok, yaitu data, perangkat keras, perangkat lunak, dan manajemen.
a.  Data
1. Sumber Data :
Sumber data yang dapat digunakan dalam masukan data antara lain data pengindraan jauh, data peta dan data teristris (pengukuran/ pengamatan langsung dilapangan).

2. Macam data
terdiri data spasial/keruangan dan data atribut
a) Data keruangan adalah data yang terkait dengan ruang (letak, bentuk/ luas dll), berdasarkan proses penyimpanannya dibedakan menjadi dua model yaitu :
  1) Model Data Raster
Data raster adalah data yang dibentuk oleh kumpulan sel atau pixel (picture element). Data raster berdimensi dua sehingga mudah disimpan, dimanipulasi, dan ditampilkan.
2)   Model Data Vektor
Data vektor merupakan model data yang dapat digunakan untuk menggambarkan informasi geografi secara tepat. Model data vektor menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis; atau poligon beserta atributnya. Bentuk-bentuk dasar data spasial dalan model data vektor ditampilkan dalarn sistem koordinat kartesian dua dimensi (sumbu x dan y).










b) Data Atribut
Data atribut suatu objek dapat berupa data kualitatif dan data kuantitatif, yaitu :
1)  Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data hasil pengamatan yang dinyatakan dalam bentuk deskriptif.
2)  Data Kuantitatif
Data kuantitif adalah data hasil pengamatan atau pengulcuran yang dinyatakan dalam bilangan. Data kuantitatif berfungsi untuk memperlihatkan perbedaan nilai dari objek.
Data kuantitatif dapat dibedakan menjadi empat, yaitu data rasio, interval, ordinal, dan nominal.
a)    Data rasio adalah data yang diperoleh dengan ukuran-ukuran yang memiliki nilai 0 (nol) mutlak dan dengan interval yang sama. Contohnya, panjang jalan A = 5 km dan, panjang jalan B = 10 km. Hal itu berarti bahwa panjang jalan B adalah 2 kali panjang jalan A. Data rasio ini mempunyai tingkat akurasi yang tertinggi.
b)    Data interval adalah data yang disusun berdasarkan jarak tertentu. Contohnya, nilai mata pelajaran siswa A = 9, B = 8, C = 7, D = 6, dan E = 5. Interval antara siswa A dan C (9-7 = 2) sama dengan interval antara siswa C dan E (7 - 5 = 2). Data interval mempunyai tingkat akurasi sedang.
c)    Data ordinal adalah data yang disusun berdasarkan kategori-kategori tertentu yang menunjukkan adanya tingkatan dari yang paling rendah sampai tingkat paling tinggi. Contohnya, kelompok penduduk ekonomi atas diberi label 1, kelompok penduduk ekonomi menengah diberi label 2, dan kelompok penduduk ekonomi bawah diberi label 3.
d)    Data nominal adalah data yang disusun berdasarkan kategori-kategori tertentu yang tidak menunjukan adanya tingkatan, kemudian diberi kode. Contohnya, permulciman diberi kode 1 dan sawah diberi kode 2.

b.  Perangkat Keras
Perangkat keras (hadware) adalah perangkat-perangkat fisik yang digunakan dalam sistem komputer. Perangkat keras yang dibutuhkan dalam pengoperasian SIG adalah seperangkat komputer yang terdiri atas central processing unit (CPU), monitor, printer, plotter, disket, hard disk, magnetic tape, digitizer, keyboard dan scanner.

c.  Perangkat Lunak
Perangkat lunak (software) adalah program yang digunakan untuk mengoperasikan SIG. Beberapa program yang dapat digunakan antara lain Arc/Info, Are View, ERDAS, dan ILWIS.

d.  Manajemen / SDM / brain ware
Manajemen merupakan perangkat dalam SIG yang terdiri atas sumber daya manusia. secara umum orang-orang yang terlibat dalam SIG dibedakan menjadi tiga, yaitu staf operasional yang meliputi pengguna akhir, staf profesional teknik yang meliputi analis dan programer, serta manajer yang bertanggung jawab atas SIG secara keseluruhan.



E. Manfaat dan Penerapan SIG
Seiring dengan kemajuan teknologi, SIG makin banyak digunakan dalam berbagai bidang, antara lain karena berikut ini.
1.  SIG dapat digunakan sebagai alat bantu utama yang interaktif dan menarik dalam rangka peningkatan wawasan dan pengetahuan. Namun, yang paling penting adalah peningkatan penibelajaran dan pendidikan bagi usia sekolah, khususnya tentang konsep lokasi, ruang, dan unsur geografis di permukaan bumi.
2.  SIG menggunakan data spasial dan data atribut secara terintegrasi sehingga sistemnya memiliki kemampuan analisis spasial dan non-spasial.
3.  SIG dapat memisahkan secara tegas antara bentuk tampilan dan data-datanya. Oleh karena itu, SIG memiliki kemampuan untuk mengubah tampilan dalam berbagai bentuk.
4.  SIG secara mudah dapat menghasilkan berbagai peta tematik. Peta-peta tematik tersebut merupakan turunan dari peta-peta lain yang data-datanya telah dimanipulasi.
5.  SIG sangat membantu pekerjaan-pekerjaan yang erat hubungannya dengan bidang – bidang spasial.







POLA KERUANGAN DESA DAN KOTA

A. POLA KERUANGAN DESA
1 SYARAT-SYARAT DESA
         Syarat-syarat desa
Mempunyai wilayah, Adanya penduduk, Mempunyai pemerintahan, Berada langsung di bawah camat, Mempunyai kebiasaan-kebiasaan pergaulan sendiri

2 FUNGSI DESA
         Fungsi Desa sebagai :
sumber bahan pangan, penghasilan bahan mentah, penghasil tenaga kerja, pusat-pusat industri kecil

3 KLASIFIKASI DESA
A.      Menurut Aktivitasnya:
Desa Nelayan, Desa agraris, Desa Industri
B.      Menurut Tingkat Perkembangannya
1.       Desa Swadaya
Ciri-cirinya:
a.       Sebagai besar kehidupan penduduknya masih menggantungkan pada alam
b.       Hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari
c.       Administrasi desa belum dilaksanakan dengan baik
d.       Lembaga-lembaga desa belum berfungsi dengan baik
e.       Tingkat pendidikan dan produktivitas penduduknya masih rendah
f.        Belum mampu dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri
2.       Desa Swakarya (Transisi)
Ciri-cirinya:
a.       Sudah mampu menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri
b.       Lembaga social desa dan pemerintahan sudah berfungsi
c.       Administrasi desa sudah berjalan
d.       Adat-istiadat mulai longgar
e.       Mata pencaharian mulai bearagam
f.        Sudah ada hubungan dengan daerah sekitarnya
3.       Desa Swasembada
Ciri-cirinya:
a.       Sarana dan prasarana desa lengkap
b.       Pengelolaan administrasi telah dilaksanakan dengan baik
c.       Pola piker masyarakat lebih rasional
d.       Mata pencaharian penduduk sebagaian besar di bidang jasa dan perdagangan


4 CIRI-CIRI MASYARAKAT DESA
a.              Kehidupan tergantung pada alam
b.             Toleransi sosialnnya kuat
c.              Adat-istiadat dan norma agama kuat
d.             Kontrol sosialnya didasarkan pada hokum informal
e.              Hubungan kekerabatan didasarkan pada Gemeinssehaft (paguyuban)
f.              Pola pikirnya irrasional
g.              Struktur perekonomian penduduk bersifat agraris


5 POTENSI DESA
potensi fisik : pertanian
potensi social : gotong royong, apatur desa, lembaga social

6 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SISTEM PERHUBUNGAN DESA
Topografi, Letak desa, Fungsi desa
7 DEFINISI DESA
A.      Menurut UU No. 5 Tahun 1979
DESA adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk, sebagai kesatuan masyarakat hokum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan mempunyai hak otonomi dalam ikatan negara kesatuan RI.
B.      Menurut SUTARDJO KARTOHADIKUSUMO
DESA adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.

C.      Menurut TINJAUAN GEOGRAFI
DESA adalah suatu perwujudan geografis, yang ditimbulkan oleh unsure-unsur fisigrafis, sosial, ekonomi, politik dan budaya dan memiliki hubungan timbal-balik dengan daerah lain.

8 POLA PERSEBARAN DESA
         Faktor-faktor yang mempengaruhi pola persebaran desa:
Letak desa, Keadaan iklim, Kesuburan tanah, Tata air, Keadaan ekonomi, Keadaan budaya


9 UNSUR-UNSUR DESA
Ø  Daerah, Penduduk, Tata kehidupan

10 POLA PERSEBARAN DESA
1.       Pola memanjang mengikuti jalan raya. Pola ini umumnya terdapat di pedalaman
2.       Pola mengikuti rel kereta api
3.       Mengikuti garis pantai
4.       Pola masyarakat
Penyebarannya:
a.              Terdapat di daerah pegunungan (dataran tinggi)
b.             Daerah yang berelief kasar
5.       Pola Desa Tersebar
                              Pola desa yang tidak teratur. Pola desa ini banyak dijumpai di daerah Karst (Kapur)


B.  POLA KERUANGAN KOTA
1 DEFINISI KOTA
A.     Menurut MENTERI DALAM NEGERI RI NO. 4/1980
1.KOTA adalah suatu wilayah yang mempunyai batas administrasi wilayah
2. KOTA adalah lingkungan kehidupan yang mempunayi cirri non-agraris
B.      Secara GEOGRAFIS
KOTA adalah suatu bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsure-unsur alami dan non-alami dengan gajala pemusatan penduduk tinggi, corak kehidupan yang heterogen, sifat penduduknya individualistis dan materialistis.

2 CIRI FISIK KOTA
         Ciri Fisik Kota
-          Adanya sarana ekonomi, Gedung pemerintahan, Alun-alun, Tempat parker, Sarana rekreasi, Sarana olah raga, Komplek perumahan

3 CIRI MASYARKAT KOTA
         Ciri Masyarakat Kota
-          Adanya keanekaragaman penduduk
-          Sikap penduduk bersifat individualistik
-          Hubungan sosial bersifat Gesselsehaft (Patembayan)
-          Adanya pemisahan keruangan yang dapat membentuk komplek-komplek tertentu
-          Norma agama tidak ketat
-          Pandangan hidup kota lebih rasional

4 KLASIFIKASI KOTA
A.      Menurut Jumlah Penduduk
1. Kota Kecil                        =penduduknya antara 20.000-50.000 jiwa
2. Kota sedang         =penduduknya antara 50.000-100.000 jiwa
3. Kota besar                        =penduduknya antara 100.000-1.000.000 jiwa
4. Metropolitan         =penduduknya antara 1.000.000-5.000.000 jiwa
5. Megapolitan         =penduduknya lebih dari 5.000.000 jiwa
B.      Menurut tingkat perkembangan
1.      Tahap eopolis adalah tahap perkembangan desa yang sudah teratur dan masyarakatnya merupakan peralihan dari pola kehidupan desa kea rah kehidupan kota.
2.      Tahap polis adalah suatu daerah kota yang sebagian penduduknya masih mencirikan sifat-sifat agraris.
3.      Tahap metropolis adalah suatu wilayah kota yang ditandai oleh penduduknya sebagaian kehidupan ekonomi masyarakat ke sector industri.
4.      Tahap megapolis adalah suatu wilayah perkotaan yang terdiri dari beberapa kota metropolis yang menjadi satu sehingga membentuk jalur perkotaan.
5.      Tahap tryanopolis adalah suatu kota yang ditandai dengan adanya kekacauan pelayanan umum, kemacetan lalu-lintas, tingkat kriminalitas tinggi.
6.      Tahap necropolis (Kota mati) adalah kota yang mulai ditinggalkan penduduknya.

C. Menurut  sejarah terjadinya
1. berasal dari kegiatan perkebunan (Palembang)
2. berasal dari kegiatan administrasi pemerintahan (Yogya, surakarta, Jakarta, Bukittinggi)
3. berasal dari kegiatan pertambangan (Cepu, Balikpapan)

 

5 STRUKTUR PANGGUNAAN LAHAN KOTA
A.      Menurut teori KONSENTRIK
Teori konsentrik dikemukakan oleh E. W. BURGESS.
Menurut teori ini daerah perkotaan dibagi menjadi 5 wilayah, yaitu:
1.             Pusat Daerah Kegiatan (PDK) juga disebut CBD (Central Bussiness District) dicirikan dengan adanya pusat pertokoan, kantor pos, bank, bioskop dan pasar.
2.             Wilayah Transisi ditandai dengan industri manufaktur, pabrik dan pola penggunaan lahan merupakan pola campuran.
3.             Wilayah pemukiman masyarakat kelas rendah.
4.             Wilayah pemukiman masyarakat kelas menengah.
5.             Wilayah pemukiman masyarakat kelas tinggi.












B.      Teori SEKTORAL
Teori ini dikemukakan oleh HOMER HOYT. Isi dari teori ini adalah bahwa unit-unit kegiatan di perkotaan tidak mengikuti zona-zona teratur secara konsentris, tetapi membentuk sector-sektor yang sifatnya lebih bebas.
Dalam toeri ini HOMER, berpendapat:
1.             Daerah-daerah yang memiliki harga tanah atau sewa tanah murah biasanya terletak di luar kota.
2.             Daerah-daerah yang memiliki sewa tanah dan harga tanah rendah merupakan jakur-jalur yang bentuknya memanjang dari pusat kota ke daerah perbatasan.
3.             Zona pusat adalah pusat daerah kegiatan (PDK)













C.      Teori INTI GANDA
Teori ini dikemukakan oleh HARRIS dan ULLMAN.
Merupakan bentuk kritik terhadap teori konsentriknya Burgess. Struktur kota tidaklah sederhana. Sebenarnya tidak ada urutan-urutan teratur sebab dapat terjadi suatu kota terdapat tempat-tempat tertentu yang berfungsi sebagai inti kota dan pusat pertumbuhan baru . kompleks industri, pasar, terminal dapat menjadi inti pertumbuhan suatu kota. 












Berdasarkan keadaan tata ruang kota dapat dikelompokkan menjadi:
1.       Inti Kota (Core Of City)
      Inti Kota adalah wilayah kota yang digunakan sebagai pusat kegiatan, ekonomi, pemerintahan dan kebudayaan. Wilayah ini disebut juga CBD ( Central Businness Districs)
2.       Selaput Inti Kota
      Selaput Inti Kota adalah wilayah yang terletak di luar inti kota, sebagai akibat daritidak tertampungnya kegiatan dalam kota.
3.       Kota Satelit
Kota Satelit adalah suatu daerah yang memiliki sifat perkotaan dan pusat kegiatan industri.
4.       Sub Urban Daerah sekitar pusat kota yang berfungsi sebagai daerah pemukiman.

Urbanisasi
Beberapa definisi Urbanisasi
1.            Urbanisasi adalah suatu proses pembengkakan atau penggelembungan kota yang disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah penduduk.
2.            Urbanisasi adalah suatu proses bertambahnya jumlah kota pada suatu wilayah yang disebabkan oleh perkembangan sosial, ekonomi, dan teknologi.
3.            Urbanisasi adalah suatu proses berubahnya kehidupan pedesaan menjadi suasana perkotaan.
4.            Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang sifatnya menetap.

Faktor penyebab urbanisasi
A.     Faktor daya tarik (Pull Faktors)
Lapangan pekerjaan di kota lebih beragam, Fasilitas sosial di kota lebi memadahi, Kota berpotensi sebagai sebagai tempat pemasaran, Tingkat upah di kota tinggi, Kota merupakan tempat yang lebih menguntungkan untuk mengembangkan jiwa dan pengetahuan
B.     Faktor pendorong (Push Factor)
Menyempitnya lapangan pekerjaan di sector pertanian, Pemilihan lahan pertanian semakin sulit dan sempit, Alasan pendidikan, Kurangnya fasilitas social, Tingkat upah relative rendah, Tekanan adat-istiadat

Dampak Urbanisasi
Kota
Desa
1. Kepadatan penduduk tinggi
1. Kurang tenaga kerja
2. Tingkat kriminalitas tinggi
2. Terhambatnya pembangunan desa
3. Bertambahnya jumlah pengangguran
3. Menurunnya produktivitas pertanian
4. Terdapat SLUM
4. Menuurnnya produktivitas pertanian
5. sering terjadi kemacetan lalu-lintas



                   Upaya Penanggulangan Masalah Urbanisasi
1.       Mengembangkan industri kecil dan industri rumah tangga di desa
2.       Melancarkan program KB baik di desa maupun di kota
3.       Memperlancar pembangunan di bidang transportasi dan komunikasi antar kota-desa
4.       Pembangunan perumahan rakyat di pinggiran kota
5.        

6 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
         Faktor yang mempengaruhi perkembangan kota
Ø   Faktor Alamiah : Lokasi, Fisiografi, Kekayaan alam
Ø   Faktor Sosial : Penduduk, Kebijaksanaan pemerintah, Faktor Kebijaksanaan Pemerintahan



INTERAKSI KOTA
A. INTERAKSI
Interaksi adalah hubungan timbal-balik yang saling berpegaruh antara 2 wilayah atau lebih yang dapat menimbulkan gejala, kenampakan ataupun permasalahan baru.
Kekuatan iteraksi antara kota dengan desa berkaitan dengan jarak desa ke pusat kota.
Semakin jauh jarak desa ke pusat kota, maka makin lemah interaksinya, begitu sebaliknya. Menurut Bintarto wilayah-wilayah iteraksi membentuk lingkaran-lingkaran yang dinamakan Zona Interaksi.

B.  ZONA INTERAKSI
1                                                                                                                          = City   4= Urban Fringa
2                                                                                                                          = Sub Urban    5=Rural Urban Fringa
3                                                                                                                          = Sub Urban Fringa      6= Rural
Keterangan:
City                            = pusat kota
Sub Urban                 = suatu wilayah yang memiliki suasana penghidupan seperti daerah perkotaan. Wilayah ini merupakan tempa titnggal para penglaju.
Sub Urban Fringe      = suatu wilayah yang merupakan peralihan antra desa dan kota.
Urban Fringe            = suatu daerah batas luar kota yang mempunyai sifat-sifat mirip dengan kota.
Rural Urban Fringe   = suatu wilayah yang terletak antara kota dan desa yang ditandai dengan pola penggunaan lahan campuran antara sektor pertanian dan non pertanian.
Rural                            = daerah desa

1. Interaksi Kota-Desa
Interaksi Kota-Desa dapat melalui:
Kuliah Kerja Nyata, ABRI Masuk Desa, L.S.M, Penyuluhan

2. Pengaruh Positif Interaksi Kota-Desa
Pengaruh Positif Interaksi Kota-Desa
a.    Tingkat pengetahuan penduduk desa meningkat
b.    Perekonomian desa meningkat
c.    Hubungan kota dan desa meningkat
d.    Perubahan atau penyesuaian gaya hidup

Menurut Edward Ulman, factor yang mempengaruhi interaksi antara lain:
1.       Adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (Regional Complementatif) maksudnya adanya wilayah-wilayah yang berbeda dalam ketersediann sumber daya alam.
2.       Adanya kesempatan berintervensi (Inervening Opportunity)
      Artinya = suatu hal atau keadaan yang dapat melemahkan pola interaksi antar wilayah, sebagai akibat adanya alternative pengganti auatu sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu daerah.
3.       Adanya kemudahan transfer atau pemidahan dalam ruang (Spatial Transfer Ability).
Faktor yang mempengaruhi terjadinya transfer dalam ruang antara lain:
b.             jarak mutlak dan relative tiap-tiap wilayah
c.             biaya transfortasi
d.             kelancaran prasarana transportasi antara wilayah

C. TEORI-TEORI INTERAKSI

1.  Model Gravitasi (Issac Newton)
           
 Kekuatan Interaksi oleh W. J. Reilly
           
Dimana :
IAB            : kekuatan interaksi
PA              : jumlah penduduk kota A
PB              : jumlah penduduk kota B
d AB :        jarak kedua kota

Fungsinya :
Untuk mengukur kekuatan interaksi antara dua wilayah atau lebih.
Syarat-syarat penerapan kekuatan interaksi antara lain:
kondisi penduduk sama, Bentuk relief sama, Keadaan prasarana dan sarana transportasi relatif sama

2. Titik Henti (the breaking point theory) oleh W. J. Reilly
           
Dimana :
Dab : jarak lokasi titik henti yang diukur dari kota yang jumlah penduduknya paling kecil.
dab : jarak antar kota a-b
PA : jumlah penduduk kota yang paling kecil
PB : jumlah penduduk kota yang paling besar
Fungsinya :
1. Memperkirakan lokasi garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua buah kota yang berbeda ukurannya
2. Penempatan lokasi industri atau pelayanan social antar dua wilayah

3. teori grafik (KJ kansky)
untuk menghitung kekuatan interaksi antar kota dalam suatu wilayah dilihat dari jaringan jalan digunakan rumus indeks konektivitas :

B : e / v

Dimana :
B : indeks konekstivitas
e  : jumlah jaringan jalan
 v : jumlah kota dalam suatu wilayah


4. Potensi Penduduk
Tujuannya :
Untuk mengetahui besarnya kemungkinan penduduk suatu wilayah untuk mengadakan migrasi dan interaksi dengan wilayah lain di sekitarnya.


D. Konflik pemanfaatan lahan permukiman
meningkatnya jumlah poenduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan pemukiman menyebabkan terjadinyan konflik antar pemanfaatan lahan untuk pemukiman dengfan non permukiman.

E. Dampak permukiman penduduk terhadap kualitas lingkungan :
fisik (air, udara, tanah), biologi, sosial budaya.




PUSAT PERTUMBUHAN

A. Pengertian Pusat-pusat Pertumbuhan
Adalah suatu wilayah yang tumbuh pesat sehingga dijadikan sebagai pusat pembangunan yang diharapkan dapat mempengaruhi wilayah sekitarnya. Factor yang mempengaruhi perkembangan wilayah misalnya kesuburan tanah, letak suatu daerah atau factor-faktor sumber alam lainnya, termasuk sumber daya manusianya.

2. Pengembangan Pusat-pusat Pertumbuhan Berbagai Wilayah di Indonesia  
Adapun langlah-langkah nyata yang ditempuh antara lain :
  • Berusaha meningkatkan efektifitas pembuatan sarana-sarana vital seperti jalan, listrik, telpon, terminal, pelabuhan udara, pelabuhan laut, terutama di kawasan Indonesia Timur.
  • Memberikan perhatian lebih bagi daerah-daerah yang tertinggal dengan mengucurkan sejumlah dana ekstra untuk pengembangan wilayah tersebut melalui pendidikan, sector industri kecil dan menengah maupun pembangunan kantor-kantor pemerintah.
  • Melakukan pertukaran pelajar antara Indonesia barat, tengah, dan timur
  • Melakukan pertukaran guru dan kepala sekolah natara kawasan Indonesia Barat, Tengah dan Timur.
  • Melakukan rolling aparatur Negara diseluruh Indonesia

Dalam skup kecil, kutub-kutub perubahan pada dasarnya merupakan fasilitas-fasilitas masyarakat yang menjadi penggerak aktivitas social budaya bagi masyarakat itu, antara lain dapat berbentuk : Sekolah, Pasar, Lalu lintas, Pusat Perbelanjaan, Terminal, Pelabuhan dan Industri.


B. Menentukan batas wilayah partumbuhan
1. Batas Absolut
            Sebagai pedoman yang sangat kasar, batas-batas wilayah pertumbuhan identik dengan batas-batas wilayah administrasi, yaitu batas provinsi, batas antar kabupaten atau kota yang satu dengan yang lain dan batas Negara yang satu dengan Negara yang lain.

2. Batas Relatif
            Batas relatif merupakan batas antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain dengan melihat perbedaan karateristiknya. Batas relative ini sungguh-sungguh sangat kabur, hanya dapat diketahuai secara jelas apabila dilakukan melalui suatu penelitian. misal : Batas antara masyarakat yang sadar pendidikan dan masyarakat yang kurang sadar pendidikan. Dalam suatu penelitian, batas-batas relatife ini akan dapat ditentukan berdasarkan pengamatan, wawancara, dan angket kepada warga masyarakat.


PERBEDAAN WILAYAH FORMAL DAN FUNGSIONAL
Wilayah formal adalah suatu kawasan geografis yang seragam atau homogen. Dengan kata lain, pengklasifikasian wilayah formal didasarkan pada satu criteria saja. Pada awalnya kriteria yang digunakan adalah kondisi fisik, topografi, iklim, atau jenis vegetasi. Kemudian criteria berkembang menjadi kriteria ekonomi, seperti industri atau tipe pertanian. Bahkan juga digunakan kriteria social-politik, seperti partai politik.

Wilayah fungsional adalah kawasan geografis yang difungsikan menurut jenis dan kekhususan, suatu wilayah yang saling berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Wilayah fungsional sering merujuk pada suatu wilayah modal atau polarisasi yang membentuk suatu keragaman unit, seperti kota, kecamatan, atau kelurahan yang secara fungsional saling berhubungan.
Dari pengertian wilayah formal di atas, dapat diketahui perbedaan keduanya. Wilayah formal merupakan suatu wilayah yang statis, seragam, dan tidak aktif. Wilayah dengan ciri seperti ini biasanya adalah wilayah pinggiran atau pedesaan.
Wilayah fungsional merupakan suatu wilayah yang dinamis, aktif, dan berbentuk secara terus menerus oleh dorongan yang mengubahnya. Wilayah dengan ciri seperti ini biasanya adalah wilayah sentral (pusat kota dan sekitarnya).

C. Teori dasar pusat pertumbuhan
1.Teori kutub pertumbuhan (growth poles theory) oleh Perroux.
Teori iini sering disebut teori pusat-pusat pertumbuhan. Bahwa pada kenyataannya pembangunan di manapun adanya bukanlah merupakan suatu proses yang terjadi serentak,  tetapi muncul di tempat-tempat tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda-beda. Tempat – tempat atau kawasan yang menjadi pusat pembangunan ini dinamakan pusat-pusat / kutub-kutub pertumbuhan yang kemudian menyebar ke wilayah lain di sekitarnya. 


2. Teori tempat yang sentral (Central Place Theory) oleh Walter Christaller.
            Teori ini dikembangkan di Jerman oleh seorang ahli geografi perwilayahan yang bernama Walter Chrstaller.

Bila ditinjau dari jenis-jenis pusat pelayanan ini, hierarki tempat yang sentral dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1)      Tempat Sentral yang Berhierarki 3 (K=3)
Tempat sentral berhierarki 3 merupakan tempat pusat pelayanan berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi daerah sekitarnya, atau sering disebut sebagai kasus pasar optimal. Pengembangan wilayah tempat sentral yang berhierarki 3 ini biasanya dasar pengembangannya adalah aktivitas-aktivitas ekonomi, misalnya masalah produksi barang-barang, pendistribusian barang-barang atau perdagangan yang mempertemukan antara penjual dan pembeli. Hal terpenting dari tempat sentral yang berhierarki 3 ini adalah bahwa kasus pasar optimal ini memiliki pengaruh 1/3 bagian dari wilayah tetangga di sekitarnya yang berbentuk heksagonal atau segi enam, selain mempengaruhi wilayah itu sendiri.









2)      Tempat sentral yang berhierarki 4 (K=4)
Teori tempat sentral yang berhierarki 4 adalah sama dengan teori tempat sentral yang berhierarki 3 tetapi besar-kecilnya pengaruh kutub perkembangan (K) relative lebih luas lagi, yaitu kurang lebih 50% dari wilayah yang ada disekitarnya. Tempat sentral yang berhierarki 4 dinamakan situasi lalu lintas yang optimum, artinya di daerah tersebut dan daerah-daerah sekitarnya yang terpengaruh tempat sentral itu senantiasa memberikan kemungkinan rute lalu lintas yang paling efisien.









3)      Tempat sentral yang berhierarki  7 (K=7)
Teori sentral yang berhierarki 7 mempunyai pengaruh bagi daerah kutub perubahan terhadap daerah disekitarnya jauh lebih besar. Hal ini karena selain didukung dalam bentuk kegiatan ekonomi, juga didukung oleh pengendalian pada system administrasi pemerintahan. Oleh sebab itu, dapat mempengaruhi daerah di sekitarnya secara lebih luas lagi, yaitu sekitar 7/10 atau 0,7 dari daerah yang ada di sekitarnya. Daerah-daerah yang mempunyai tipe perkembangan seperti ini pada umumnya berkaitan dengan kutub pusat yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan bagi daerah sekitarnya. Istilah lain dari tempat sentral yang berhierarki 7 dinamakan situasi administrasi yang optimum.









B. Kaitan Pusat Pertumbuhan dan Pengaruh Wilayah Di Sekitarnya
Suatu pusat pertumbuhan akan memberikan pengaruh pada wilayah sekitarnya. Beberapa pengaruh yang ada adalah sebaga berikut:
  1. Pengaruh terhadap pemusatan dan persebaran sumber daya
Hadirnya pusat-pusat pertumbuhanakan menarik jumlah tenaga kerja yang banyak, hal ini dapat dilihat dari arus mobilitas dan migrasi penduduk dari desa ke kota maupun antar provinsi. Arus migrasi penduduk dari pedesaan menuju kota besar maupun kota kecil di Indonesia menunjukkan angka yang terus meningkat sejalan dengan pesatnya pertumbuhan kota.

  1. Pengaruh terhadap perkembangan ekonomi
Terjadinya peluang kerja di berbagai sector yang relative terbuka dan adanya gerakan arus barang akan membawa dampak terhadap alat transportasi, perhubungan, perdagangan, perkantoran, dan jasa.

  1. Pengaruh terhadap perubahan social budaya masyarakat
Semakin maraknya kemajuan pusat-pusat pertumbuhan akan mempengaruhi kondisi social masyarakat. Pengaruh kemajuan pusat pertumbuhan tersebut akan terlihat seperti berikut ini:
1)      Akan memotivasi masyarakat untuk berlomba memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kesiapan untuk menghadapi perubahan social budaya ;
2)      Akibat moblitas penduduk, baik yang melalui migrasi maupun pertumbuhan alam dari berbagai latar belakang budaya, menyebabkan akan terjadi akulturasi asimilas nilai budaya;
3)      Terbukanya arus informasi dan komunikasi akan mempercepat pertumbuhan daeah tersebut;
4)      Terbukanya lapangan pekerjaan yang banyak dan luas akan meningkatkan taraf hidup masyarakat secara otomatis, sehingga status social mereka akan lebih baik.
5)      Melatih masyarakat untuk mengatur waktu, disiplin, bersikap hemat, serta menyeleksi mana kebutuhan prime da sekunder supaya tidak terpengaruh oleh tuntutan barang dan jasa yang berlebihan.

C. Pusat Pertumbuhan di Indonesia
            BAPPENAS membagi wilayah di Indonesia menjadi empat pusat petumbuhan, yaitu wilayah A sampai D. Di masing-masing wilayah dibagi lagi menjadi beberapa wilayah pembangunan. Pembagian tersebut dapat dilihat pada table berikut ini.
            Adanya pembagian wilayah seperti ini dapat bermanfaat untuk menjamin tercapainya pembangunan yang serasi dan seimbang, baik antar sector di dalam wilayah pembangunan maupun antar wilayah pembangunan itu sendiri. Prinsip perwilayahan tersebut di atas juga diterapkan di dalam skala yang lebih kecil di dalam provinsi-provinsi itu sendiri, dengan memperhatikan hubungan yang saling kait mengkait antara kabupaten dan kecamatan dalam satuan wilayah administrasi yang lebih kecil.

TABEL REGIONAL PETUMBUHAN DENGAN WILAYAHNYA DI INDONESIA
NO
Regional
Pusat Pertumbuhan
Wilayah
Meliputi daerah-daerah
1.
A
Medan
I
Aceh, Sumut
Pusatnya di Medan
II
Sumbar, Riau, Kep. Riau
Pusatnya di Pekanbaru
2.
B
Jakarta
III
Jambi, Sumsel, Bengkulu, Ba-pel
Pusatnya di Palembang
IV
Lampung, Jakarta, Jabar, Jateng, Banten, DI Yogyakarta
Pusatnya di Jakarta
V
Kalbar, Pusatnya di Pontianak
3.
C
Surabaya
VI
Jatim, Bali
Pusatnya di Surabaya
VII
Kalteng, Kaltim, Kalsel
Pusatnya di Balikpapan dan Samarinda
4.
D
Ujungpandang /
Makasar
VIII
NTB, NTT, Sulsel, Sultra
Pusatnya di Makasar
IX
Sulteng, Sulut, Gorontalo
Pusatnya di Manado
X
Maluku, Maluku Utara, Papua (Irian Jaya)
Pusatnya di Sorong

           

PERWILAYAHAN NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG


A. Tahapan perkembangan negara :
WW Rostow :
1. Tahapan masyarakat tradisional
a. masyarakatnya belum produktif
b. produktifitas ekonomi belum masih rendah
c. sistim kerja turun – temurun
d. sistim ekonomi belum berorientasi ke pasar
e. bekerja di sektor pertanian 

2. tahapan prakondisi lepas landas
a. menujuperubahan di segala bidang
b. mengenal teknoplogi yang produktif
c. mengenal lembaga keuangan
d. perekonomian bergerak maju

3. tahap lepas landas
a. usaha produksi yang sedang dilakukan terus berkembang
b. pertumbuhan ekonomi makin mantap
c. kegiatan industri lebih dominan di dalam perttumbuhan ekonomi
d. pendapatan perkapita terus meningkat

4. tahap gerak maju
a. pertumbuhan ekonomi berlangsung terus menerus
b. penggunaan teknologi oleh masyarakat makin tinggi
c. struktur ekonomi makin mantap
d. industri modern makin banyak tumbuh dan berkembang

5. tahap konsumsi massa tinggi
daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok sudah sangat tinggi.


B. Indikator negara maju dan negara berkembang
Parameter yang mudah untuk membedakan antara negara maju dan berkembang adalah :
1. Tingkat ekonomi
2. mata pencaharian
3. penguasan teknologi
4. bidang kependudukan

PBB mengklaisfikasikan negar-negara berkembang menjadi tiga kelompok
- negara terbelakang (44 negara paling miskin)
- negara yang sedang berkembang bukan pengekspor minyak
- negara kaya yang merupakan pengekspor minyak anggota OPEC


menurut Bank Dunia
Membagi 133 negara ke 4 kategori sesuai pendapatan perkapitanya
- negara-negara berpendapat rendah = 785 $ US
- negara – negara berpendapatan menengah = 786-3.125 $ US
- negara-negara berpendapatan menengah tinggi = 3.126-9.655 $  US
- negara-negara berpendapatan tinggi = lebih darai 9.656 $ US

C. ciri –ciri negara maju
1. pendapatan negara berasal dari bidang industri
2. pendapatan per kapita tinggi
3. angka pertumbuhan penduduk kecil
4. angka kematian penduduk kecil
5. sebagian besar penduduknya tinggal di kota.
6. tingkat pendidikan tinggi
7. menguasai iptek

D. Ciri-ciri negara berkembang 
1. standar hidupnya rendah
2. produktivitas rendah
3. tingkat peretiumbuhan poenduduk tinggi.
4. Tingkat kebergantungan tinggi
5. kurangnya tenaga ahli
6. tingkat pengangguran tinggi dan bertambah
7. kebergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor barang-barang primer
8. tingginya angkatan kerja di sektor pertanian
9. kurangnya teknologi dan modal
10. rendahnya tingkat tabungan
11. tingginya ekspor produk primer
12. kebergantungan kepada negara-negara maju

selain mempunyai kesamaan karakteristik juga mempunyai keragaman karakteristik :
-          jumlah penduduk banyak dengan pendapatan kecil
-          latar belakang sejarah yang pernah dijajah
-          sumber daya manusia rendah tetapi SDA banyak.
-          Komposisi etnik dan agama dapat berpotensi konflik
-          Peran swasta dan pemerintah dalam dunia perekonomian. Peran pemerintah dominan di Asia Selatan dan Afrika. Peran Swasta dominan di Amerika Latin dan Asia Tenggara.
-          Struktur industri sektor pertanian
-          Kebergantungan pada negera-negara maju.
-          Ekspornya produk primer (bahan mentah)

Masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara berkembang adalah :
-          mengatasi kemiskinan
-          mengatasi kesenjangan pembangunan antarwilayah
-          mengurangi tingkat pengangguran
-          mengatasi rendahnya tingkat pendidikan
-          mengatasi rendahnya gizi
-          memperluas kesempatan di bidang ekonomi dan sosial
-          membina keutuhan dan kesatuan sebagai negara bangsa

E. Model pengembangan wilayah di negara maju dan berkembang
1. pengembangan wilayah di negara maju
Pengembangan wilayah kota negara-negara maju dilakukan atas dasar desentralisasi kota.

pola bentuk kota yang merupakan tren pengembangan wilayah di masa depan dan sudah dirintis adalah :
a. metropolis menyebar
terbentuk dengan mengembangkan bagian kota yang paling jarang penduduknya. Bagian kota yang padat penduduknya dibangun kembalai dengan mengurangi kepadatan penduduk sehingga kota metropolis menyebar.





b. metropolis galatika
terjadi dari permukiman kota yang kecil-kecil berpenduduk padat, dipisahkan oleh kawasan pertanian yang jarang atau tidak ada penduduknya. Kegiatan sosial ekonomi terpusat di berbagai permukiman.





c. metropolis memusat
terbentuk karena kegiatan sosial ekonomi yang tinggi dengan kepadatan penduduk yang tinggi pula, terutama dipusatnya. Banyak penduduk yang yang tinggal di apartemen atau rumah susun.





d. metropolis bintang
terbentuk karena mempunyai inti utama, dengan pola kepadatan penduduk membentuk bintang yang memanjang pada beberapa bagian kota. Inti kota utama sebagai pusat kota dikelilingi oleh banyak pusat kedua kedua yang terletak sepanjang lengan –lengan yang memanjang. Lengan kepadatan penduduknya sedang.





e. metropolis cincin
terbentuk dengan kepadatan penduduk terletak di sekeliling tengah kota. Adapun daerah yang jarang penduduknya terletak ditengah kota.




2. pengembangan wilayah di negara berkembang
permasalahan utama dalam pengembangan wilayah di negara berkembang adalah :
perumahan, prasarana, dan jasa.

Fenomena yang muncul di negara berkembang, adalah :
a. munculnya disparitas/kesenjangan pembangunan antarwilayah.
b. munculnyakota-kota dengan wajah seram, semrawut dan tak tertata.
c. munculnya wilayah-wilayah yang seolah-olah tak tersentuh proses pembangunan.

Permasalahan tersebut antar lain karena harga tanah dan rumah mahal, sukar menjangkau lembaga keuangan, penduduk miskin kota kurang berpartisipasi dalam berbagai proyek perencanaan dan pelaksanaan perumahan, biaya yang kurang cukup dari pemerintah dalam program investasi, standar dan kode pembangunan kurang lentufr, harga bahan bangunan mahal.

F. Usaha pengembangan wilayah di Indonesia
Pertimbangan utama usaha pengembangan wilayah di suatu negara selalu memperhitungkan gerak manusia yang berada di dalamnya.  Indonesia merupakan negara kepulauan, usaha pengembangan wilayah di Indonesia secara umum adalah usaha pengembangan sarana transportasi antapulau, baik melalui pengangkutan darat, air dan udara.