GEOGRAFI NEWS

GEOGRAFI NEWS : Geografi memiliki cabang ilmu, antara lain; geografi sosial, geografi ekonomi, geografi budaya, geografi politik, geografi fisik, geografi regional dan geografi teknik. GEOGRAFI NEWS : Pengertian geografi dalam arti sempit adalah ilmu tentang bumi GEOGRAFI NEWS : Geografi dalam arti luas adalah ilmu yang mempelajari tentang perbedaan dan persamaan fenomena geosfer dari sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan. GEOGRAFI NEWS : Geografi memiliki 3 pendekatan, yaitu ; 1. pendekatan ekologi atau lingkungan, 2. pendekatan regional complex atau kewilayahan, 3. pendekatan spatial atau keruangan. GEOGRAFI NEWS : Geografi menerapkan 4 prinsip dasar, yaitu; 1. prinsip distribusi, 2. prinsip interelasi, 3. prinsip diskripsi dan 4. prinsip korologi. GEOGRAFI NEWS : geografi mengkaji 2 jenis objek, antara lain ; 1. objek material, 2. objek formal. GEOGRAFI NEWS : konsep geograf ; konsep jarak, konsep letak, konsep interaksi, konsep pola, konsep aglomerasi, konsep keterjangkauan, konsep defferensiasi area, konsep topografi.

Selasa, 18 Januari 2011

POLA KERUANGAN DESA-KOTA

Pola Keruangan
Desa-Kota
Pada pembahasan Pola Keruangan Desa-Kota, kamu akan
mengetahui bagaimana membuat batas pengertian antara
desa dengan kota, memahami karakter perbedaan di antara
keduanya, dan memahami strukur ruang yang membangunnya.
Desa adalah kampung
halaman dan kota adalah
cita-cita. Desa tempat
pulang dan merasakn
segenap kehangatan
masyarakatnya.
Sementara itu, kota
identik dengan
persaingan dan
ketidakpedulian. Itulah
setidaknya bayangan kita
tentang desa dan kota.
4
Bab
80 Pola Keruangan Desa-Kota
Berikut ini kata-kata yang menjadi inti materi pada pembahasan Pola Keruangan Desa-Kota
Kata kunci
desa, kota, struktur ruang, memusat, linear, terpencar, mengelilingi fasilitas, teori
sektor, teori memusat, teori berganda
Guna membantu kalian memahami alur pemikiran bab ini, perhatikan peta konsep berikut
Peta konsep
Keruangan
Desa-Kota
Interaksi
Desa-Kota
Kota
Desa
Fisik
Non-Fisik
Tanah, Air,
Iklim,
Ternak, dan
Manusia
Masyarakat,
Lembaga-
Lembaga
Sosial, dan
Pamong
Desa.
Struktur
Definisi Desa
Potensi Desa
Definisi Kota
Struktur
Ruang Kota
Linear
Memusat
Mengelilingi
Fasilitas
Terpencar
Teori Sektor
Teori Memusat
Teori Berganda
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 81
Wilayah di permukaan Bumi dapat
dibagi menjadi dua bagian besar yaitu desa
(Gambar 4.1) dan kota. Walaupun dalam
banyak hal, seringkali desa dan kota tidak
mudah dibedakan, tetapi dalam banyak hal
pula kenampakannya sangat berbeda. Mulai
dari sarana-sarana fisik hingga struktur
sosial. Bila dibandingkan tampak perbedaan
sarana-sarana sosial seperti jalan,
tata letak bangunan, maupun fasilitas sosial
lainnya. Begitu pula dengan struktur sosial
masyarakatnya yang juga berbeda. Untuk
itulah geografi membahas desa dan kota
sebagai pembahasan tersendiri.
A. Desa
Bila kita mengingat sebuah desa, kita akan mengingat segala
kesederhanaan yang ditawarkannya. Kesederhanaan yang membuatnya
sangat berbeda dengan kota. Bahkan, jika dirunut, karakterisitik unik
desalah yang membuatnya disebut sebagai "kampung halaman".
1. Definisi Desa
Menurut Bintarto, desa adalah suatu
perwujudan geografi yang ditimbulkan oleh
unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis,
politik, dan budaya di suatu wilayah dalam
hubungan dengan pengaruh timbal balik
dengan daerah-daerah lain. Dalam kehidupan
sehari-hari desa sering disebut dengan istilah
kampung, yaitu suatu daerah yang letaknya
jauh dari keramaian kota dan dihuni oleh
sekelompok masyarakat yang sebagian besar
bermata pencaharian di bidang agraris
(Gambar 4.2).
Suatu daerah dikatakan desa, jika masih memiliki ciri khas yang dapat
dibedakan dengan daerah lain di sekitarnya. Berdasarkan pengertian Direktorat
Jenderal Pembangunan Desa (Dirjen Bangdes), desa memiliki empat ciri.
a. Perbandingan lahan dengan manusia (man land ratio) cukup besar.
b. Lapangan kerja yang dominan adalah sektor pertanian (agraris).
Ingin lebih tahu
www.itcpr.com ? c. Hubungan antar warga desa masih sangat
akrab.
d. Sifat-sifat masyarakatnya masih memegang
teguh tradisi yang berlaku.
Gambar 4.1
Desa di Sulawesi tenggara
Sumber: www.ict4pr.org
Gambar 4.2
Sektor agraris, seperti halnya pertanian menjadi
ciri khas dari perdesaan.
Sumber: www.ict4pr.org
82 Pola Keruangan Desa-Kota
Menurut pengertian lama, kehidupan masyarakat perdesaan dicirikan
oleh beberapa hal sebagai berikut.
a. Desa dan masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan alam.
b. Iklim dan cuaca mempunyai pengaruh besar terhadap petani sehingga
warga desa banyak tergantung pada perubahan musim.
c. Keluarga desa merupakan unit sosial dan unit kerja.
d. Jumlah penduduk dan luas wilayah desa tidak begitu besar.
e. Kegiatan ekonomi mayoritas agraris.
f. Masyarakat desa merupakan suatu paguyuban.
g. Proses sosial di desa umumnya berjalan lambat.
h. Warga desa pada umumnya berpendidikan rendah.
2. Struktur Ruang Desa
Kalau diperhatikan secara seksama lahan di pedesaan selalu digunakan
untuk kegiatan sosial masyarakatnya seperti tempat tinggal, tempat ibadah,
sekolah, dan tempat berkumpul warga. Ini menunjukkan karakteristik pola
aktivitas masyarakat desa. Masyarakat desa pada dasarnya mempunyai
keinginan untuk berkumpul sehingga jarang sekali kita menemukan tempat
tinggal yang terletak di tengah kebun atau sawah. Kegiatan ekonomi
biasanya dilaksanakan di luar perdesaan, baik di kebun maupun di sawah.
Kalau ada perkebunan yang menyatu dengan permukiman itu hanya ada
pada daerah tertentu.
Bentuk permukiman antara desa satu dengan desa lain mempunyai
perbedaan. Perbedaan tersebut terjadi karena faktor geografi yang berbeda.
Secara umum permukiman pedesaan berbentuk memusat, linier, terpencar,
dan mengelilingi fasilitas tertentu.
a. Bentuk Perdesaan Memusat
Bentuk perdesaan memusat banyak
ditemukan di daerah pegunungan. Bentuk
perdesaan ini terpencar menyendiri (agglomerated
rural settlement). Biasanya dihuni oleh
penduduk yang berasal dari satu keturunan
sehingga merupakan satu keluarga atau kerabat.
Jumlah rumah umumnya kurang dari 40 rumah
(Gambar 4.3).
b. Bentuk Perdesaan Linier
Bentuk perdesaan linier banyak ditemukan
di daerah pantai, jalan raya, dan sepanjang
sungai. Bentuk perdesaan ini memanjang
mengikuti jalur jalan raya, alur sungai atau
Gambar 4.3
Salah satu desa dengan bentuk memusat di
Jepang.
Sumber: Noburu Komine dalam Encarta, 2006
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 83
garis pantai. Pola ini digunakan masyarakat dengan tujuan untuk mendekati
prasana transportasi (jalan dan sungai) atau untuk mendekati lokasi tempat
bekerja, seperti nelayan di pinggiran pantai (Gambar 4.4).
c. Bentuk Perdesaan Terpencar
Bentuk perdesaan terpencar sulit
ditemukan di Indonesia karena hanya
terdapat di Negara-negara Eropa,
Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Bentuk perdesaan yang terpencar
cenderung menyendiri (disseminated
rural settelment). Biasanya perdesaan
seperti ini hanya merupakan farm stead,
yaitu sebuah rumah petani yang terpencil,
tetapi lengkap dengan gudang alat mesin,
penggilingan gandum, lumbung, kandang
ternak, dan rumah petani (Gambar 4.5).
d. Bentuk Perdesaan Mengelilingi Fasilitas
Bentuk perdesaan seperti ini umumnya ditemukan di daerah dataran
rendah, di mana banyak fasilitas-fasilitas umum yang dimanfaatkan
penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas
tersebut misalnya mata air, danau, waduk, dan fasilitas lain (Gambar 4.6).
Sumber: Beratha dalam Daldjoeni, 1998: 63
Keterangan:
1. Fasilitas yang telah ada
2. Arah pengembangan permukiman
3. Permukiman Penduduk
4. Daerah industri kecil
12345
12345
12345
12345
4
4
2
2
2 2
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1234567890123
1
Keterangan:
1. Arah pengembangan untuk permukiman
penduduk
2. Daerah kawasan industri kecil desa
3. Daerah permukiman penduduk
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
1234567890123456789012345678
Laut
3
1 1
2 2 2
123456
123456
123456
123456
123456
Gambar 4.4
Contoh skema bentuk desa linier yang mengikuti garis pantai.
Sumber: Beratha dalam Daldjoeni, 1998: 60
Skema perdesaan mengelilingi fasilitas
Gambar 4.6
Gambar 4.5
Pertanian terpadu di Wisconsin, Amerika Serikat.
Rumah petani menyatu dengan pengolahan pertanian
dan dikelilingi oleh ladang pertanian yang luas.
Sumber: www.wfbf.com
84 Pola Keruangan Desa-Kota
3. Potensi Desa
Secara umum, potensi adalah segala sesuatu yang dimiliki tetapi belum
dimanfaatkan. Selama belum dimanfaatkan maka potensi suatu wilayah
tidak akan memberi manfaat apapun bagi masyarakat.
Berdasarkan potensi yang dimilikinya, perdesaan dapat dikelompokkan
menjadi tiga.
a. Desa berpotensi tinggi, yaitu desa yang memiliki lahan pertanian yang
subur dengan topografi datar atau agak miring. Desa juga dilengkapi
dengan fasilitas irigasi teknis sehingga memiliki kemampuan besar
untuk berkembang lebih lanjut.
b. Desa berpotensi sedang, yaitu desa yang memiliki lahan pertanian agak
subur dengan topografi tidak rata. Fasilitas irigasi yang ada di desa
sebagian teknis dan sebagian lainnya teknis. Ini menyebabkan desa
berkembang dengan lambat.
c. Desa berpotensi rendah, yaitu desa yang memiliki lahan pertanian tidak
subur dengan topografi berbukit. Sumber air sukat didapat dan
kegiatan pertanian bergantung pada curah hujan. Ini menyebabkan
desa sukar berkembang.
Terdapat tiga unsur penting yang ada pada desa dan dapat dimanfaatkan
sebagai potensi desa.
a. Daerah, yang meliputi lokasi, luas, dan batas wilayah serta penggunaannya.
b. Penduduk, yang meliputi jumlah, pertumbuhan, kepadatan, persebaran,
dan mata pencaharian.
c. Tata kehidupan, yang pola dan ikatan pergaulan sesama warga desa.
Secara khusus, potensi desa dapat diartikan sebagai berbagai sumber
daya alam (fisik) dan sumber daya manusia (non fisik) yang tersimpan dan
terdapat di suatu desa. Potensi fisik dan potensi nonfisik tersebut diharapkan
bermanfaat bagi kelangsungan dan perkembangan desa.
a. Potensi Fisik
Potensi-potensi fisik yang dimiliki perdesaan
adalah sebagai berikut.
1) Tanah, meliputi berbagai sumber tambang dan
mineral, lahan untuk tumbuhnya tanaman.
2) Air, dalam artian sumber air yang meliputi
keadaan atau kondisi, tata airnya untuk
irigasi, pertanian dan kebutuhan hidup
sehari-hari.
3) Iklim, peranannya sangat penting bagi desa
yang bersifat agraris.
4) Ternak (Gambar 4.7), sebagai sumber tenaga,
bahan makanan,dan pendapatan.
Gambar 4.7
Salah satu ternak yang sering ada di perdesaan di
Indonesia yaitu kerbau. Ternak ini sering
dimanfaatkan sebagai sumber tenaga untuk
membajak sawah.
Sumber: Dokumentasi Penerbit, 2006
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 85
5) Manusia, sebagai sumber tenaga kerja potensial (potential man power),
baik pengolah tanah, dan produsen dalam bidang pertanian, maupun
tenaga kerja industri di kota
Gambar 4.8
Suasana gotong royong membuka jalan yang
tertimbun longsor di Kampung Bojong, Bogor
Barat. Suasana seperti ini merupakan ciri khas
dan potensi desa.
Sumber: www.aksicepattanggap.com
b. Potensi Non fisik
Potensi-potensi non fisik yang dimiliki
perdesaan adalah sebagai berikut.
1) Masyarakat desa, yang hidup berdasarkan
gotong-royong. Gotong-royong merupakan
suatu kekuatan berproduksi atau kekuatan
membangun atas dasar kerja sama, dan
saling pengertian (Gambar 4.8).
2) Lembaga-lembaga sosial, yaitu lembagalembaga
pendidikan dan organisasiorganisasi
sosial yang dapat memberikan
bantuan sosial dan bimbingan terhadap
masyarakat.
3) Aparatur atau pamong desa, untuk menjaga ketertiban dan keamanan
demi kelancaran jalannya pemerintahan desa.
Amatilah desa terdekat dari tempat tinggalmu. Termasuk bentuk desa manakah desa
tersebut? Jangan lupa sertakan alasan yang mendukung jawabanmu.
Tugas Mandiri observasi
B. Kota
Kota identik dengan sesuatu yang sangat kompleks. Bahkan ada yang
mencirikannya dengan adanya prasarana perkotaan, seperti bangunan
pemerintahan, rumah sakit, sekolah, pasar, taman, alun-alun yang luas, serta
jalan aspal yang lebar-lebar. Pada dasarnya, kota merupakan suatu wilayah
yang sebagian besar arealnya terdiri atas wujud hasil budaya manusia (hasil
cipta, rasa, dan karsa manusia), serta tempat pemusatan penduduk yang
tinggi dengan sumber mata pencaharian di luar sektor pertanian.
1. Definisi Kota
Kota (Gambar 4.9), menurut definisi universal, adalah sebuah area
urban yang berbeda dari desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya,
kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum.
86 Pola Keruangan Desa-Kota
Gambar 4.10
Shinjuku, inti kota Tokyo. Inti kota juga
disebut sebagai Central Business District
(CBD) atau Pusat Daerah Kegiatan (PDK).
Sumber: Brad dalam www.pic.templetons.com
Di Indonesia, kota merupakan pembagian wilayah administratif di
Indonesia setelah provinsi, yang dipimpin oleh seorang walikota. Selain
kota, pembagian wilayah administratif setelah provinsi adalah kabupaten.
Secara umum, baik kabupaten dan kota memiliki wewenang yang sama.
Kabupaten bukanlah bawahan dari provinsi, karena itu bupati atau walikota
tidak bertanggung jawab kepada gubernur. Kabupaten maupun kota
merupakan daerah otonom yang diberi wewenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahannya sendiri.
Menurut Bintarto, kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan
manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata
sosial ekonomi yang heterogen dan kehidupan materealistis. Kota juga dapat
diartikan sebagai sebuah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsurunsur
alami dan non alami dengan gejala-gejala
pemusatan penduduk yang cukup besar dengan
corak kehidupan yang bersifat heterogen dan
materealistis dibandingkan dengan daerah
belakangnya.
Peraturan Menteri Dalam Negeri RI No.4
tahun 1980 menyebutkan bahwa kota terdiri atas
dua bagian. Pertama, kota sebagai suatu wadah
yang memiliki batasan administratif sebagaimana
diatur dalam perundang-undangan. Kedua, kota
sebagai lingkungan kehidupan perkotaan yang
mempunyai ciri non-agraris, misalnya ibu kota
kabupaten, ibu kota kecamatan, serta berfungsi
sebagai pusat pertumbuhan dan permukiman.
2. Struktur Ruang Kota
Kota merupakan pusat kegiatan dan
pemerintahan. Sebagai pusat kegiatan, terdapat
bagian kota yang disebut inti kota (core of city).
Inti kota (Gambar 4.10) menjadi pusat kegiatan
ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan,
kebudayaan, dan kegiatan lainya. Oleh karena
itu, daerah seperti ini juga dinamakan Central
Business District (CBD) atau Pusat Daerah
Kegiatan (PDK). PDK berkembang dari waktu
ke waktu sehingga meluas ke arah daerah di
luarnya yang disebut daerah selaput inti kota.
Kota yang satu dengan kota lain mempunyai
tingkat keramaian dan perkembangan
berbeda. Keramaian dan perkembangan kota
dipengaruhi beberapa faktor.
Sumber: Lyoid dalam Microsoft Encarta, 2006
Gambar 4.9
Kota Jakarta, kota terbesar di Indonesia.
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 87
a. Kemampuan daya tarik dari bangunan dan gedung-gedung sebagai
tempat menyalurkan kebutuhan hidup sehari-hari.
b. Tingkat kemakmuran warga kota yang dilihat dari daya belinya.
c. Tingkat pendidikan dan kebudayaan penduduk masing-masing kota.
d. Sarana dan prasarana dalam kota yang memadai.
Sebagai pusat kegiatan kota harus dilengkapi fasilitas yang mendukung
aktivitas masyarakat. Adapun fasilitas-fasilitas yang harus dimiliki kota
antara lain sebagai berikut.
a. Fasilitas untuk perkantoran, permukiman, pendidikan, pasar,
pertokoan, bioskop rumah sakit, dan sebagainya.
b. Fasilitas perhubungan baik berupa jaringan jalan maupun jaringan telepon.
c. Taman-taman kota, alun-alun, lapangan olah raga, taman bemain dan
rekreasi keluarga, dan areal parkir yang memadai.
Lambat dan cepatnya perkembangan kota menunjukkan dinamika
sosial masyarakat yang berbeda. Salah satu faktor yang mendominasi
adalah morfologi. Kota dengan morfologi datar akan lebih cepat
berkembang dibandingkan kota dengan morfologi perbukitan.
Adanya berbagai fasilitas dan beragamnya aktivitas masyarakat kota
membentuk struktur kota yang berbeda dengan struktur di desa. Struktur
ruang kota dapat di ukur berdasarkan kerapatan bruto dan kerapatan netto.
Kerapatan bruto adalah ukuran yang meliputi bangunan gudang, tempat
parkir, tempat bongkar muat, rel kereta api dan jalan di dalam kawasan
pabrik, ruang terbuka (taman), serta ruang yang belum terpakai. Sedangkan
kerapatan netto adalah ukuran yang hanya meliputi bangunan yang efektif
digunakan, misalnya untuk bangunan pabrik meliputi gudang, tempat parkir,
dan tempat bongkar muat saja.
Kota ideal adalah kota yang mempu mengakomodasi dan menyelaraskan
antara aktivitas masyarakat dan bentuk penggunaan lahannya.
Untuk itu banyak pemikiran tentang konsep kota ideal yang diwujudkan
dalam teori-teori kota ideal.
a. Holmer Hoyt (Sector Theory)
Holmer Hoyt berpendapat bahwa struktur ruang kota cenderung
berkembang berdasarkan sektor-sektor dari pada berdasarkan lingkaranlingkaran
konsentrik. CBD terletak di pusat kota, namun pada bagian
lainnya berkembang menurut sektor-sektor yang bentuknya menye-rupai
irisan kue bolu. Hal ini dapat terjadi akibat dari faktor geografi, seperti
bentuk lahan dan pengembangan jalan sebagai sarana komunikasi dan
transportasi.
88 Pola Keruangan Desa-Kota
Susunan kota menurut teori sektor
(Gambar 4.11).
1. Sektor pusat kegiatan bisnis yang
terdiri atas bangunan-bangunan
kontor, hotel, bank, bioskop, pasar,
dan pusat perbelanjaan.
2. Sektor kawasan industri ringan dan
perdagangan.
3. Sektor kaum buruh atau kaum murba,
yaitu kawasan permukiman kaum
buruh.
4. Sektor permukiman kaum menengah
atau sektor madya wisma.
5. Sektor permukiman adi wisma, yaitu
kawasan tempat tinggal golongan atas
yang terdiri dari para eksekutif dan
pejabat.
b. Ernes W. Burgess (Teori Memusat/
Konsentris)
Burgess mengemukakan teori memusat
atau konsentris yang menyatakan bahwa
daerah perkotaan dapat dibagi dalam enam
zona (Gambar 4.12).
1. Zona pusat daerah kegiatan (Central
Business District), yang merupakan
pusat pertokoan besar, gedung perkantoran
yang bertingkat, bank, museum,
hotel restoran dan sebagainya.
2. Zona peralihan atau zona transisi, merupakan
daerah kegiatan. Penduduk
zona ini tidak stabil, baik dilihat dari
tempat tinggal maupun sosial ekonomi.
Daerah ini sering ditemui kawasan
permukiman kumuh yang disebut slum
karena zona ini dihuni penduduk
miskin. Namun demikian sebenarnya
zona ini merupakan zona pengembangan
industri sekaligus menghubungkan
antara pusat kota dengan
daerah di luarnya.
1
2 3
3
3
3
4
5
4
3
2
3
Holmer Hoyt
Sector Theory
Gambar 4.11
Struktur kota berdasarkan teori sektor oleh Homer
Hoyt, (1) daerah dagang; (2) pabrik-pabrik ringan; (3)
rumah-rumah kecil; (4) rumah-rumah sedang; (5) rumahrumah
besar milik orang kaya; (6) pabrik-pabrik besar; (7)
daerah dagang dipinggir kota; (8) rumah para pegawai di
luar kota yang kerja dalam kota; (9) daerah industri di luar
kota; (10) daerah para pelaju (commuters).
Sumber: Dokumentasi Penerbit, 2006
Concentric Zone Theory
1
2
3
4
5
10
Burgess
Gambar 4.12
Struktur kota berdasarkan teori konsentris oleh Ernest
.W. Burgess., (1) daerah dagang; (2) pabrik-pabrik ringan;
(3) rumah-rumah kecil; (4) rumah-rumah sedang; (5)
rumah-rumah besar milik orang kaya; (6) pabrik-pabrik
besar; (7) daerah dagang dipinggir kota; (8) rumah para
pegawai di luar kota yang kerja dalam kota; (9) daerah
industri di luar kota; (10) daerah para pelaju (commuters).
Sumber: Dokumentasi Penerbit, 2006
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 89
3. Zona permukiman kelas proletar, perumahannya sedikit lebih baik karena
dihuni oleh para pekerja yang berpenghasilan kecil atau buruh dan
karyawan kelas bawah, ditandai oleh adanya rumah-rumah kecil yang
kurang menarik dan rumah-rumah susun sederhana yang dihuni oleh
keluarga besar. Burgess menamakan daerah ini workingmen's homes.
4. Zona permukiman kelas menengah (residential zone), merupakan
kompleks perumahan para karyawan kelas menengah yang memiliki
keahlian tertentu. Rumah-rumahnya lebih baik dibandingkan kelas
proletar.
5. Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan tinggi. Ditandai
dengan adanya kawasan elit, perumahan dan halaman yang luas.
Sebagian penduduk merupakan kaum eksekutif, pengusaha besar, dan
pejabat tinggi.
6. Zona penglaju (commuters), merupakan daerah yang yang memasuki
daerah belakang (hinterland) atau merupakan batas desa-kota.
Penduduknya bekerja di kota dan tinggal di pinggiran.
c. CD Harris & EL Ullman (Teori Berganda/Multiple Nuclei)
Harris dan Ullman menilai bahwa kota
tidak seteratur penggambaran Burgess karena
antar kawasan kota seolah berdiri sendiri.
Sruktur ruang kota tidaklah sesederhana dalam
teori konsentris. Hal ini disebabkan oleh tidak
adanya urutan-urutan yang teratur yang dapat
terjadi dalam suatu kota terdapat tempattempat
tertentu yang befungsi sebagai inti kota
dan pusat pertumbuhan baru.
Keadaan tersebut telah menyebabkan
adanya beberapa inti dalam suatu wilayah
perkotaan, misalnya kompleks atau wilayah
perindustrian, kompleks perguruan tinggi, dan
kota-kota kecil di sekitar kota besar. Menurut
teori ini struktur ruang kota adalah sebagai
berikut (Gambar 4.13)
1. Pusat kota atau Central Business District
(CBD).
2. Kawasan niaga dan industri ringan.
3. Kawasan murbawisma atau permukiman
kaum buruh.
4. Kawasan madyawisma atau permukiman
kaum pekerja menengah.
Gambar 4.13
Struktur kota berdasarkan teori berganda oleh
CD Harris dan El Ullman., (1) daerah dagang;
(2) pabrik-pabrik ringan; (3) rumah-rumah
kecil; (4) rumah-rumah sedang; (5) rumahrumah
besar milik orang kaya; (6) pabrik-pabrik
besar; (7) daerah dagang dipinggir kota; (8) rumah
para pegawai di luar kota yang kerja dalam kota;
(9) daerah industri di luar kota; (10) daerah para
pelaju (commuters).
Sumber: Dokumentasi Penerbit, 2006
Multiple Nuclei Theory
Harris Ullman
3
2
3
1
3 4
7
5
6
9 8
90 Pola Keruangan Desa-Kota
5. Kawasan adiwisma atau permukiman kaum kaya.
6. Pusat industri berat.
7. Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran.
8. Upakota, untuk kawasan mudyawisma dan adiwisma.
9. Upakota (sub-urban) kawasan industri.
Di Indonesia, struktur ruang kota ditandai dengan pemanfaatan lahan
yang tidak tertata dengan baik sehingga menimbulkan berbagai macam
permasalahan, seperti permasalahan permukiman, pembuatan trotoar,
drainase, jalan raya, dan perindustrian.
Terdapat istilah metropolitan dan megapolitan dalam mengklasifikasikan sebuah kota.
Carilah literatur yang mendukung kriteria metropolitan dan megapolitan. Jangan lupa
menuliskannya dalam bukumu.
Tugas Mandiri studi literatur
C. Interaksi Desa-Kota
Istilah interaksi wilayah (spatial interaction) menurut Ullman mencakup
berbagai gerak mulai dari barang, penumpang, migran, uang informasi,
sehingga konsepnya sama dengan geography of circulation. Ullman juga
mengemukakan terdapat tiga faktor utama yang mendasari atau memengaruhi
interaksi antar wilayah.
1. Adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (regional comlementary).
2. Adanya kesempatan untuk saling berintervensi (interventing
opportunity).
3. Adanya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang (spatial
transfer ability).
Untuk mengukur kekuatan interaksi dari berbagai wilayah, termasuk
interaksi desa-kota digunakan rumus berikut.
Interaksi =
1 2
2
1 – 2
PK PK
(JK )
��
Keterangan
PK1 : jumlah penduduk daerah 1
PK2 : jumlah penduduk daerah 2
JK1–2 : jarak antara kedua daerah
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 91
Contoh soal
Jumlah penduduk kota A 525.000 jiwa. Jumlah penduduk kota B
85.000 jiwa. Jarak kedua daerah 65 km. Berapakah kekuatan interaksinya?
Jawab
Interaksi =
1 2
2
1 – 2
PK PK
(JK )
��
= 2
525.000 85.000
(65)
��
= 10,56
Jadi kekuatan interaksi kota A dengan kota B adalah 10,56.
Apabila dirunut hingga ke akarnya interaksi antarwilayah muncul
karena perbedaan sumber daya alam. Di satu pihak ada wilayah yang
surplus, sedangkan pada wilayah lainnya kekurangan sumber daya alam
dan sebaliknya sehingga mendorong terjadinya interaksi antar wilayah.
Faktor lain yang memengaruhi pola interaksi antar wilayah adalah adanya
kemudahan pemindahan dalam ruang, baik proses pemindahan manusia,
barang, maupun informasi yang meliputi hal-hal berikut ini.
1. Jarak mutlak dan jarak relatif antar tiap-tiap wilayah.
2. Biaya angkut atau transport untuk memindahkan manusia, barang,
dan informasi dari satu tempat ke tempat lain.
3. Kemudahan dan kelancaran prasarana transportasi antar wilayah,
seperti kondisi jalan, relief wilayah, jumlah kendaraan sebagai sarana
tranportasi dan sebagainya.
Dalam proses pembangunan hubungan atau interaksi antara kota
dengan desa sangat erat. Eratnya hubungan antara kota dengan desa dapat
dilihat dari peran desa dalam pengembangan kota.
1. Desa sebagai pusat penghasil dan pensuplai bahan mentah dan baku untuk
pembangunan di kota.
2. Desa menyediakan tenaga kerja yang berperan dalam pembangunan kota.
3. Desa menjadi daerah pemasaran produk-produk hasil industri di kota.
Demikian sebaliknya, kota turut punya peran
besar sehingga muncul interaksi antara desa
dengan kota.
1. Kota menyediakan pusat-pusat pelatihan bagi
peningkatan keterampilan penduduk desa.
2. Kota menghasilkan barang-barang siap pakai
yang dimanfaatkan di desa.
Diskusikan dengan guru sosiologimu
mengenai perbedaan-perbedaan
karakter masyarakat desa dan kota
beserta faktor yang melatarbelakanginya.
Diskusi Lintas Ilmu
92 Pola Keruangan Desa-Kota
Kemukakanlah interaksi positif dan interaksi negatif yang dapat muncul sebagai akibat
interaksi desa-kota pada buku catatanmu untuk didiskusikan bersama!
Tugas Mandiri analisis
3. Kota menjadi pusat informasi yang bermanfaat bagi desa.
4. Kota menjadi pusat permodalan yang dibutuhkan masyarakat desa.
Interaksi positif akan terjalin bila menghasilkan keuntungan bagi kedua
belah pihak. Interaksi positif antara desa dengan kota terwujud dalam halhal
berikut ini.
1. Terpenuhinya kebutuhan desa dan kota, meliputi produk dan bahan
baku yang mendukung proses pembangunan.
2. Terpenuhinya kebutuhan terampil baik bagi desa maupun kota. Desa
menghasilkan tenaga kerja bagi industri di kota, sedangkan kota
menghasilkan tenaga terdidik yang berperan dalam kemajuan desa.
3. Berlangsungnya proses pembangunan yang seimbang antara desa dan
kota.
Kilas Geografi
Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh
sekolompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat
peninggalan leluhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan
dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup
pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan
kearifan tradisional yang lekat.
Secara administratif, Kampung Naga berada di wilayah Desa Neglasari,
Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Menurut data
dari Desa Neglasari, morfologi Kampung Naga berupa perbukitan dengan
produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada
seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan,
pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang
dipanen satu tahun dua kali.
Religi dan Sistem Pengetahuan
Penduduk Kampung Naga semuanya mengaku beragama Islam, akan tetapi,
sebagaimana masyarakat adat lainnya, mereka juga sangat taat memegang adat
istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya. Artinya, walaupun mereka
menyatakan memeluk agama Islam, namun syariat Islam yang mereka jalankan
agak berbeda dengan pemeluk agama Islam lainnya. Bagi masyarakat Kampung
Kampung Naga
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 93
Naga dalam menjalankan agamanya sangat patuh pada warisan nenek moyang.
Umpamanya sembahyang lima waktu; Subuh, Duhur, Ashar, Maghrib, dan solat
Isa, hanya dilakukan pada hari jumat. Sedangkan pada hari-hari lain mereka tidak
melaksanakan sembahyang lima waktu. Pengajaran mengaji bagi anak-anak
dikampung Naga dilaksanakan pada malam senin dan malam kamis, sedangkan
pengajian bagi orang tua dilaksanakan pada malam jumat. Dalam menunaikan
rukun Islam yang kelima atau ibadah Haji, menurut anggapan mereka tidak perlu
jauh-jauh pergi keTanah Suci Mekah, cukup dengan menjalankan upacara Hajat
Sasih yang waktunya bertepatan dengan hari raya haji yaitu setiap tanggal 10
Rayagung. Upacara Hajat Sasih ini menurut kepercayaan masyarakat Kampung
Naga sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.
Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adatistiadat
warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun.
Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan
sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila halhal
tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak
menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.
Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih
dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air
atau sungai terutama bagian sungai yang dalam "leuwi". Kemudian "ririwa" yaitu
mahluk halus yang senang menganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam
hari, ada pula yang disebut "kunti anak" yaitu mahluk halus yang berasal dari
perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita yang sedang
atau akan melahirkan. Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal
mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang
angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang
Singaparna, Bumi Agueng dan mesjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi
masyarakat Kampung Naga.
Tabu bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh
khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas
kehidupannya. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak
tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata
cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian,
dan sebagainya.
Dikutip dari www.sunda.net
R angkuman
1. Desa menurut Bintarto adalah suatu perwujudan geografi yang ditimbulkan
oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis, politik, dan cultural di suatu wilayah
dalam hubungan dengan pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lain.
94 Pola Keruangan Desa-Kota
Kerjakanlah di buku tugasmu!
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Berikut ini bukan merupakan ciri-ciri desa ....
a. masyarakatnya cenderung heterogen
b. mata pencaharian utama pada umumnya agraris
c. proses sosial berjalan lambat
d. hubungan antar warga desa masih sangat akrab
e. Jumlah penduduk dan luas wilayah desa tidak begitu besar
Pe l a t i h a n Bab4
2. Ciri-ciri desa antara lain: perbandingan lahan dengan manusia (man land
ratio) cukup besar, lapangan kerja yang dominan adalah sektor pertanian
(agraris), hubungan antar warga desa masih sangat akrab, sifat-sifat
masyarakatnya masih memegang teguh tradisi yang berlaku.
3. Kota menurut definisi universal adalah sebuah area urban yang berbeda dari
desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk,
kepentingan, atau status hukum.
4. Bentuk desa dipengaruhi oleh faktor geografi yang berbeda sehingga membentuk
permukiman yang memusat, linier, terpencar, dan mengelilingi fasilitas tertentu.
5. Teori-teori struktur ruang kota antara lain dikemukakan oleh Homer Hoyt (sector
theory), Ernes W. Burgess (teori memusat/konsentris), CD Harris & EL Ullham
(teori berganda/multiple nuclei).
6. Faktor utama yang mendasari atau memengaruhi interaksi antar wilayah, yaitu
adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (regional complementary),
adanya kesempatan untuk saling berintervensi (inteventing opportunity, adanya
kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang (spatial transfer ability).
7. Hubungan wilayah yang saling melengkapi muncul karena perbedaan sumber
daya alam. Di satu pihak ada wilayah yang surplus, sedangkan pada wilayah
lainnya kekurangan sumber daya alam dan sebaliknya sehingga mendorong
terjadinya hubungan antar wilayah.
8. Faktor yang mempengaruhi pemindahan antara lain arah mutlak dan jarak
relatif antara tiap-tiap wilayah, biaya angkut atau transport untuk memindahkan
manusia, barang, dan informasi dari satu tempat ke tempat lain, dan
kemudahan dan kelancaran prasarana transportasi antar wilayah.
Geografi untuk SMA-MA Kelas XII 95
2. Salah satu potensi fisik desa adalah ....
a. masyarakat desa
b. apartur desa
c. lembaga sosial
d. penduduk desa
e. rasa kekeluargaan
3. Berikut ini bukan potensi non fisik desa adalah ....
a. masyarakat desa
b. apartur desa
c. lembaga sosial
d. penduduk desa
e. rasa kekeluargaan
4. Keberadaan mata air akan membentuk desa dengan pola permukiman ....
a. mengelilingi fasilitas
b. terpencar
c. memusat
d. linear dengan pantai
e. linear dengan jalan
5. Berikut ini bukan merupakan ciri-ciri kota ....
a. masyarakatnya cenderung homogen
b. masyarakatnya cenderung heterogen
c. cenderung lebih individualistis
d. sarana sosial lengkap
e. prasarana sosial lengkap
6. Teori sektor kemukakan oleh ....
a. Homer Hoyt
b. CD Harris
c. El Ullman
d. Ernest .W. Burgess
e. CD Harris dan El Ullman
7. Teori berganda dikemukakan oleh ....
a. Homer Hoyt
b. CD Harris
c. El Ullman
d. Ernest .W. Burgess
e. CD Harris dan El Ullman
8. Teori konsentris dikemukakan oleh ....
a. Homer Hoyt
b. CD Harris
c. El Ullman
d. Ernest .W. Burgess
e. CD Harris dan El Ullman
96 Pola Keruangan Desa-Kota
Tugas Portofolio
Mata Pelajaran : Geografi
Kelas : XII (Dua belas)
Pokok Bahasan : Wilayah dan Pembangunan
Tema : Mengenali Prioritas Pembangunan Lokal dan Prospek
Bisnis Lokal
Kerjakanlah bersama kelompok belajarmu!
Setiap daerah bahkan hingga ke tingkat kecamatan memiliki prioritas
pembangunan tertentu dan di wilayah tertentu pula.
Langkah-langkah kerja
1. Kumpulkanlah informasi prioritas pembangunan daerahmu, dengan
mendatangi Badan Pemerintahan Daerah seperti Kecamatan atau yang
lebih tinggi seperti kabupaten atau Provinsi.
2. Tulislah hasil observasimu dalam sebuah makalah.
3. Jangan lupa sertakanlah uraian pendapatmu mengenai prospek bisnis yang
akan sangat menguntungkan untuk dilaksanakan di daerahmu.
9. Faktor-faktor yang memengaruhi interaksi desa kota ialah berdasarkan Ullman
adalah ....
a. adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi
b. adanya kesempatan untuk saling berintervensi
c. adanya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang
d. adanya faktor penghambat untuk berinteraksi
e. jawaban a dan b benar
10. Berikut ini yang bukan wujud interaksi positif desa-kota....
a. terpenuhinya kebutuhan kota akan hasil produksi desa
b. terpenuhinya kebutuhan desa akan hasil produksi kota
c. terpenuhinya kebutuhan desa akan tenaga terampil dari kota
d. meningkatnya penduduk desa yang ingin bekerja di kota
e. meningkatnya proses pembangunan yang seimbang antara desa-kota
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1. Secara karakteristik penduduk, apakah perbedaan desa dan kota?
2. Mengapa masyarakat desa yang berada di pantai cenderung membentuk desa linier?
3. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi interaksi desa dan kota?
4. Jelaskan perbedaan antara kota berpola konsentris dan kota berpola sektoral?
5. Jelaskan dengan singkat ciri masyarakat kota!